top of page

Tumbuhkan IKM Kerajinan dan Batik, Kemenperin Gelar Innovating Jogja 2020

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Aug 5, 2020
  • 2 min read


Pandemi Covid-19 menyebabkan sektor ekonomi lesu. Permintaan turun dan berimbas pada karyawan yang dirumahkan. Namun, ada sektor yang tak akan surut meski di masa pandemi, yaitu pangan, kerajinan, dan batik.


Industri kecil menengah (IKM) kerajinan dan batik terbukti tangguh di tengah krisis 1998 dan pandemi Covid-19. Meski bukan barang pokok dan kebutuhan mendesak, kerajinan dan batik tetap bertahan dengan keuletan dan strategi usaha yang inovatif.


Sejalan dengan adaptasi kebiasaan baru, salah satu cara pelaku IKM agar bertahan di masa pandemi adalah beradaptasi dengan permintaan pasar. Misalnya memproduksi alat pelindung diri (APD) dan masker.


Melalui Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) di Yogyakarta, Kemenperin mengadakan kelas teknik pembuatan masker kain kepada masyarakat dan menggelar program Innovating Jogja.


"Untuk memacu lahirnya industri baru di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya, Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) bersama BBKB selaku unit pelayanan teknis di bawah kami, kembali melaksanakan kegiatan Innovating Jogja," kata Doddy Rahadi, Kepala BPPI Kemenperin di Jakarta, Selasa (4/8/2020).


Innovating Jogja adalah Inkubator Bisnis Teknologi BBKB yang bergulir sejak 2016. Innovating Jogja bertujuan mencari startup berbasis inovasi di bidang kerajinan dan batik melalui sistem kompetisi ide inovasi bisnis.


"Yogyakarta merupakan salah satu wilayah yang memilki ekosistem industri kerajinan dan batik yang cukup kuat," kata Doddy.


Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan 2019 menyatakan jumlah IKM batik di Yogyakarta sebanyak 1.195 unit dan menyerap 5.771 tenaga kerja. Nilai produksi IKM batik di Yogyakarta melebihi Rp300 miliar.


Hasil penelitian dan pengembangan BBKB dimanfaatkan oleh para tenant Innovating Jogja tahun lalu. Misalnya, Teknik Batik Latar Ringkel digunakan oleh Tizania Jumputan (2018) dan Teknologi Aplikasi nanopartikel ZnO untuk Produk Batik Antibakteri yang diterapkan oleh CV. Smart Batik Indonesia (2019). Di tengah pandemi Covid-19, teknologi anti bakteri pada batik ini sangat diminati oleh para pengemar batik.


Dengan sentuhan inovasi, tenant Innovating Jogja seperti Djadi Batik dan RaMundi mengalami peningkatan permintaan produk.


Djadi Batik memproduksi batik dengan gaya Korea. Pakaian batik berdesain hanbok dikombinasikan dengan plastik. Jadilah hazmat yang cantik. Alhasil, omzet Djadi Batik meningkat 50 persen.


Sementara, RaMundi memproduksi pakaian bayi dari batik. Omzet RaMundi meningkat 70 persen berkat strategi pengemasan dan pemasaran daring. (Al-Hanaan)


Foto: berita daerah



Comments


bottom of page