Sambut HUT RI, Industri Logam Sumbang Devisa dengan Ekspor 2.000 Ton Baja Aluminium
- MyCity News

- Aug 16, 2020
- 2 min read

Industri logam dalam negeri terus meningkatkan daya saing di pasar internasional. Produk lokal terbukti kompetitif dan berkontribusi signifikan bagi perekonomian nasional.
"Dalam hal ini, kami memberikan apresiasi kepada PT Tata Metal Lestari, karena di tengah kondisi pandemi Covid-19 mampu menyumbang devisa melalui ekspornya," kata Doddy Rahardi, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Jakarta, Sabtu (15/8/2020).
Kepala BPPI mengungkapkan PT Tata Metal Lestari mengekspor 100 kontainer baja berlapis aluminium seberat 2.000 ton ke Australia, Thailand, dan Puerto Rico.
"Ini menjadi wujud nyata dari industri manufaktur kita, bahwa di tengah tekanan pandemi masih bisa bersaing, bahkan melakukan ekspor," tutur Doddy.
Industri manufaktur nasional berusaha menembus pasar ekspor untuk mengantisipasi risiko ketidakpastian ekonomi dunia.
Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo pada pidatonya mengenai RAPBN tahun anggaran 2021. Rancangan kebijakan APBN 2021 mendorong pemulihan ekonomi nasional akibat pandemi Covid-19.
Lebih lanjut, APBN 2021 mendorong reformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas, inovasi dan daya saing ekonomi, mempercepat transformasi ekonomi menuju era digital, serta pemanfaatan dan antisipasi perubahan demografi.
Pelepasan ekspor juga sejalan dengan tema peringatan HUT ke-75 Republik Indonesia, yakni Indonesia Maju.
"Hal ini sekaligus menjadi momentum kebanggan bagi kita, yang juga sedang mengkampanyekan gerakan Bangga Buatan Indonesia. Kami terus mendorong sektor industri lebih berkreasi dan berkarya tanpa batas, sehingga mimpi kita jadi kenyataan," lanjut Doddy.
Logam dasar adalah bahan baku utama yang menunjang kegiatan industri lain seperti otomotif, maritim, elektronika, dan sebagainya. Tak heran industri logam dikategorikan sebagai mother of industry.
PT Tata Metal Lestari merupakan sektor industri logam pertama yang menjalani assessment INDI 4.0. Secara virtual, BPPI Kemenperin mendampingi perusahaan itu sejak 17-20 Juli 2020.
Selain itu, BPPI Kemenperin juga meninjau kesiapan perusahaan dalam mengantisipasi penyebaran virus Covid-19.
"Pendampingan INDI 4.0 ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, kinerja mesin peralatan dan juga mengikuti protokol kesehatannya. Langkah-langkah yang sudah dilakukan PT Tata Metal Lestari ini sudah baik sekali. Kami masih terus melakukan pendampingan, dengan target tahun 2021 sudah bisa bertransformasi secara digital. Ini salah satu pejuang-pejuang industri kita," ungkap Doddy.
"Hasilnya pun kini sudah terlihat dengan meningkatnya efisiensi yang berujung pada kualitas sehingga PT Tata Metal Lestari mampu menembus pasar global," imbuh Doddy.
Vice President PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi menjadikan pasar ekspor sebagai tolok ukur bagi produk manufaktur yang bertransformasi ke industri 4.0. Dikarenakan standar yang ditentukan di berbagai negara sangat tinggi dan berbeda-beda.
"Buah dari penerapan project INDI 4.0 ini adalah efisiensi yang berujung pada kualitas. Sehingga produk PT Tata Metal Lestari dipercaya oleh pasar global. Ini dibuktikan dengan produk yang mampu menembus pasar ekspor di delapan negara," ungkap Stephanus.
Selanjutnya, Stephanus menyampaikan ekspor perdana PT Tata Metal Lestari dimulai April lalu. Ekspor dilakukan untuk diversifikasi pasar dan menjaga mesin-mesin investasi baru perusahaan tersebut tetap berjalan sehingga menghindari PHK di Tatalogam Group. Harapannya, ekspor baja aluminium bisa menyumbang devisa di tengah pandemi global.
"Ekspansi kami ke luar negeri serta penggunaan produk dalam negeri ini diharapkan dapat menguatkan posisi neraca dagang Indonesia, serta berkontribusi atau memberikan pengaruh yang positif terhadap devisa negara, utamanya di tengah menurunnya kondisi ekonomi dalam negeri akibat pandemi Covid-19," terang Stephanus. (Al-Hanaan)
Foto oleh Kateryna Babaieva dari Pexels



Comments