Puluhan Pabrik Sepatu Gulung Tikar, Ribuan Karyawan Dirumahkan
- MyCity News

- Aug 18, 2020
- 1 min read

Permintaan sepatu dalam negeri dan luar negeri mengalami tekanan yang berat di tengah pandemi global. Banyak pabrik sepatu yang menutup pabrik dan merumahkan karyawan karena tak ada permintaan.
"Ada yang betul-betul stop produksi sekitar 18%. Mereka sangat kesulitan akhirnya nggak kuat juga," kata Firman Bakri, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Selasa (18/8/2020).
Data Aprisindo menyatakan sebanyak 120 produsen atau sekitar 20 pabrik tutup. Akibatnya puluhan ribu pegawai terdampak. Utilitas produksi pun jauh dari normal.
"Jauh ya, sekarang utilitas (tingkat pemanfaatan kapasitas produksi) 32%. Jadi yang masih jalan masih banyak tapi volume mengecil. Banyak yang lakukan 3 hari kerja, 2 hari libur, masih banyak seperti itu," jelas Firman.
Dalam kondisi sulit begini, Firman mengatakan pelaku usaha butuh bantuan untuk pemulihan. Namun, sejumlah regulasi justru memberatkan.
Regulasi itu adalah Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 18 Tahun 2019 tentang Metode Pengujian, Tata Cara Pendaftaran, Pengawasan, Penghentian Kegiatan Perdagangan dan Penarikan Barang Terkait dengan Keamanan, Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan Hidup (K3L).
"Ini Kemendag keluarkan Permendag, ada syarat standar mutu lagi, sebenarnya itu duplikasi pengaturan, karena bicara standar mutu juga. Ketika dilihat lebih dalam lagi sangat memberatkan. Masalahnya peraturan-peraturan ini ada tumpang tindih dalam pengawasan, jadi sewaktu-waktu bisa aparat hukum, selama ini kita harap pembinaan," jelas Firman.
Industri alas kaki banyak melakukan PHK massal. Salah satunya adalah PT Shyang Yao Fun Kota Tangerang yang merumahkan 2.500 karyawan. Selain itu, PT Victory Chingluh Indonesia, selaku produsen buyer Nike dan Adidas juga merumahkan 4.985 karyawan. (Al-Hanaan)
Foto: Skitterphoto - Pexels



Comments