Permintaan Naik 15,2 Persen Selama Pandemi, Kemenperin Genjot Kemandirian Industri Kosmetik
- MyCity News

- Aug 3, 2020
- 2 min read

Industri kosmetik merupakan industri yang cepat pertumbuhannya. Media sosial dan keinginan untuk eksis membuat permintaan kosmetik terus meningkat.
Melihat potensi itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong industri kosmetik dalam negeri untuk memanfaatkan sumber daya alam lokal sebagai bahan baku.
Kekayaan keanekaragaman hayati untuk industri kosmetik juga memacu substitusi impor untuk mewujudkan kemandirian nasional.
"Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, Indonesia ditargetkan bisa menjadi negara industri yang tangguh," Doddy Rahadi, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI), di Jakarta pada Rabu (2/8/2020).
Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (2015-2035) mengatakan industri farmasi, bahan farmasi, dan kosmetik adalah sektor andalan yang mendapat prioritas pengembangan. Industri kosmetik berpotensi besar menjadi penggerak utama perekonomian di masa mendatang.
Balai Besar Kimia dan Kemasan (BBKK) berfokus pada fokus penelitian dan pengembangan (litbang) pada sediaan kosmetik atau farmasi berbasis bahan alam. BBKK merupakan salah satu unit pelaksana teknis (UPT) di bawah BPPI Kemenperin.
"Untuk meningkatkan kapabilitas dan kapasitas industri kosmetik kita, salah satu strategi yang dilakukan adalah pengoptimalan teknologi agar bisa menghasilkan inovasi. Hal ini sesuai dengan arah peta jalan Making Indonesia 4.0 sebagai kesiapan kita memasuki era industri 4.0," ungkap Doddy.
Baca Juga: Pulihkan Ekonomi Nasional, Pemerintah Kucurkan Ratusan Triliun Untuk Kredit Modal Kerja Padat Karya
Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat mendefinisikan kosmetik sebagai suatu bahan yang digunakan pada tubuh manusia yang berfungsi untuk membersihkan, mempercantik, mempromosikan daya tarik, atau mengubah penampilan.
"Produk kosmetik saat ini menjadi sebuah tren atau gaya hidup, dan konsumennya tidak hanya kaum perempuan saja. Selain itu, konsumen semakin menggemari produk perawatan kulit (skincare) yang back to nature," papar Doddy.
Doddy mengatakan Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan negara penghasil jamu dan kosmetik berbasis alam seperti Cina, Malaysia, dan Muang Thai.
"Indonesia memiliki potensi tanaman obat yang banyak tumbuh di berbagai wilayah dengan jumlah sekitar 30.000 spesies dari 40.000 spesies tanaman obat di dunia dan juga sangat prospektif untuk dikembangkan karena kebutuhan yang cukup potensial di pasar lokal maupun global," terang Doddy.
Menurut data Badan Pusat Statistika (BPS), kinerja industri kimia, farmasi, dan obat tradisional (termasuk kosmetik) tumbuh sebesar 5,59 persen pada triwulan I tahun 2020.
Di tengah pandemi Covid-19, industri manufaktur ini naik 15,2 persen dan berkontribusi terhadap devisa sebesar USD317 juta pada semester I tahun 2020.
"Indikator tersebut menunjukkan bahwa industri farmasi Indonesia tumbuh dengan pesat dan mampu menyediakan sekitar 70% dari kebutuhan obat dalam negeri," tandas Doddy. (Al-Hanaan)
Foto oleh Suzy Hazelwood dari Pexels



Comments