Paradoks Resesi: Hemat Tak Selalu Baik di Masa Pandemi
- MyCity News

- May 29, 2020
- 2 min read

Krisis Covid-19 memotivasi orang Amerika untuk menabung uang. Ketakutan melumpuhkan kebiasaan berbelanja orang Amerika.
The U.S. Bureau of Economic Analysis pada hari Jumat (29/5/2020) mengatakan presentase tabungan pribadi meningkat hingga 33% di bulan April.
Kenaikan ini dari 12,7% di bulan Maret. Presentase ini naik drastis sejak tahun 1960an, dinukil dari CNBC, Jumat (29/5/2020).
Kecepatan dan pelambanan pemulihan ekonomi AS bergantung pada konsumen apakah mereka menimbun banyak uang atau mulai mengeluarkan lagi agar uangnya berputar.
“Ada ketidakpastian besar dan ketakutan akan virus masih mengintai. Inilah yang menahan keinginan orang untuk keluar dan menghabiskan uang sebagaimana biasanya,” kata Gregory Dalco, kepala U.S. economist di Oxford Economics.
Menurut FactSet, presentase tabungan pada Mei 1975 mencapai 17,3%. Presentase tabungan naik di atas 13% sepanjang awal 1970an. Peningkatan tabungan datang muncul ketika pengeluaran turun sebesar 13,6% pada April.
Konsumen AS menumpuk tabungan karena virus Corona yang mematikan menyebabkan disrupsi ekonomi dan sosial yang tak terduga.
“Presentase tabungan adalah dampak dari kejadian luar biasa,” ujar Diane Swonk, kepala ekonom di Grant Thornton.
Dengan konsumen AS yang menopang lebih dari 2/3 ekonomi, kecepatan pemulihan ekonomi bergantung pada tabungan. Apakah tabungan akan berujung pada penutupan (shutdown) atau merefleksikan perubahan yang lebih struktural dalam perilaku konsumen.
“Tidak banyak kesempatan bagi orang untuk keluar dan menghabiskan uang,” ujar Megan Greene, senior fellow di Harvard Kennedy School.
“Banyak toko tutup dan orang-orang terkunci. Kesempatan berbelanja juga hilang. Ini menunjukkan semacam ada tekanan kebutuhan.”
Di sisi lain, perubahan yang lebih struktural dalam kebiasaan menabung dan berbelanja dengan ketakutan pada konsumen mempunyai konsekuensi besar bagi ekonomi. Ini terjadi selama Resesi Hebat dan bisa memperburuk stagnasi sekular.
“[Ini] membuat suku bunga, pertumbuhan, dan inflasi rendah dalam waktu lama,” kata Greene.
“Selama uang ditabung bukan diinvestasikan, ini biasanya akan memberatkan suku bunga, menekan pertumbuhan, dan melemahkan potensi ekonomi,” kata Daco.
Menurut Marc Odo, manajer portfolio Swan Global Investments, selama krisis atau resesi ini sangat rasional untuk seseorang menjadi konservatif dengan pengeluaran dan penghematan.
“Paradoksnya adalah penghematan ini membat resesi bertambah buruk. Semakin orang berhemat, semakin sedikit mereka berbelanja. Semakin sedikit mereka berbelanja, resesi bertambah buruk. Semakin buruk resesi, semakin orang akan menghemat uang,” Odo menambahkan. (Al-Hanaan)
Gambar: Image by Steve Buissinne from Pixabay



Comments