Kurangi Impor Gula, Kemenperin Pacu Pembangunan Pabrik Gula Baru Terintegrasi Lahan Tebu
- MyCity News

- Aug 27, 2020
- 2 min read

Permintaan gula di pasar domestik semakin meningkat baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun bahan baku industri makanan dan minuman.
Untuk itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pertumbuhan pabrik gula baru. Dalam hal ini, dibutuhkan kebijakan strategis yang dapat menciptakan iklim investasi yang kondusif di Tanah Air.
Hal ini disampaikan oleh Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita ketika mengunjungi Pabrik Gula PT Prima Alam Gemilang (PAG) Bombana yang berlokasi di Desa Watu-watu, Kecamatan Lantari Jaya, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.
"Kami fokus memacu pembangunan pabrik-pabrik gula baru yang terintegrasi dengan perkebunan tebu, sehingga dapat beroperasi dengan penuh," kata Agus, Rabu (26/8/2020).
Pembangunan pabrik gula dan perluasan investasi diperlukan untuk meringankan biaya investasi dan membantu efisiensi operasional pabrik.
Untuk itu, pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 10 Tahun 2017 tentang Fasilitas Memperoleh Bahan Baku Dalam Rangka Pembangunan Industri Gula.
Baca Juga: Realisasi Investasi Rp32,39 Triliun, Sektor IKFT Siap Bertransformasi Menuju Industri 4.0"Kewajiban terintegrasi dengan perkebunan tebu yang dimaksud itu memiliki beberapa ketentuan, antara lain adalah perkebunan tebu dimiliki sendiri oleh perusahaan industri ataupun bermitra dengan petani tebu," ujarnya.
Selanjutnya, sebanyak 20% bahan baku industri berdasarkan kapasitas giling tebu berasal dari perkebunan yang dimaksud. Secara bertahap, perusahaan industri harus meningkatkan sumber bahan baku industri yang berasal dari perkebunan tebu.
"Kami memberikan apresiasi yang besar kepada Pabrik Gula PAG Bombana yang telah menjalin kemitraan saling mengungtungkan dengan melibatkan warga sekitar untuk mengangkat kesejahteraan masyarakat lokal sekaligus menggerakkan perekonomian nasional," papar Agus.
Pabrik Gula PAG Bombana memiliki kapasitas giling hingga 12.000 ton cane per day (TCD). Pabrik ini didukung dengan sumber bahan baku area tebu inti plasma seluas 22.797 hektare. Kapasitas itu merupakan produksi terbesar di Indonesia milik anak bangsa.
Menurut catatan Kemenperin, produksi gula di Indonesia mencapai 2,2 juta ton per tahun. Sedangkan kebutuhan gula nasional mencapai 5,8 juta ton per tahun.
"Gula merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat yang dapat dikonsumsi langsung maupun sebagai bahan baku industri yang kebutuhannya tiap tahun semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan industri makanan dan minuman," terang Agus.
Di sisi lain, Direksi PT PAG Bombana Arif Efendi mengatakan pabrik gula Bombana menggunakan teknologi canggih yang didukung automatisasi sesuai target peta jalan Making Indonesia 4.0.
"Sehingga kami mampu menghasilkan produk dengan incumsa di bawah 100 UI dan total Losis di bawah 1.8 pol gula," papar Arif.
Dengan automatisasi, Bombana turut berpartisipasi dalam program pemerintah untuk mewujudkan swasembada gula dan ketahanan pangan.
"Dengan kapasitas produksi sebesar itu, kami berkomitmen bisa memenuhi kuota gula Indonesia bagian timur dengan harga di bawah HET. Sehingga masyarakat mampu menikmati harga gula yang wajar," tutur Arif.
Dalam kesempatan itu, perwakilan pemilik perusahaan, Timothy Savitri mengatakan keberadaan perusahaan menciptakan lapangan kerja di tengah pandemi Covid-19 dan menyejahterakan karyawan.
"Kami ingin terus memberikan sumbangsih bagi ekonomi Indonesia dan mampu mempekerjakan warga lokal," tutup Timothy. (Al-Hanaan)
Foto: Kemenperin



Comments