top of page

Kondisi Restoran di Hong Kong Setelah Longgarkan Lockdown

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • May 26, 2020
  • 3 min read

Jumat pekan lalu, restoran di Buenos Aires Polo Club di Hong Kong kembali buka. Sebelum mempersilakan pelanggan masuk dan menunjukkan meja, pelayan restoran yang ramah dan mengenakan masker itu mengajukan beberapa pertanyaan.


“Apakah Anda baru keluar dari Hong Kong?”


“Apakah Anda mengalami gejala yang sering dialami penderita virus Corona?”


“Apakah Anda kontak langsung dengan penderita virus Corona atau orang yang di luar kota selama 14 hari?”


Protokol kesehatan dijalankan di restoran lengkap dengan pengecekan suhu tubuh, pemakaian masker, dan penggunaan penyanitasi tangan sebelum masuk restoran.


“Saya benci itu. Itu tampak sangat buruk namun kami tidak punya pilihan,” ujar Syed Asim Hussain, salah satu pendiri Black Sheep Restaurants yang mengelola Buenos Aires Polo Club seperti dinukil dari The Atlantic (25/5/32020).


Black Sheep Restaurants bergaya izakaya dan dipisahkan oleh pemisah sesuai aturan pembatasan sosial. Sebenci apapun Hussain terhadap perubahan ini, inilah yang harus dijalankan demi keselamatan untuk saat ini hingga waktu mendatang.


Industri makanan dan minuman hampir tergerus oleh virus Corona. Puluhan juta orang di dunia dilarang makan di luar. Di kota besar dan kecil, banyak restoran menawarkan layanan takeaway alias makanan dibungkus dan dibawa pulang. Cara ini berhasil membuat restoran tetap bertahan namun kurang bisa menopang arus kas (cashflow). Tak sedikit restoran yang gulung tikar dan terpaksa merumahkan banyak karyawan.


Aturan-aturan yang diadopsi di Hong Kong seperti pengecekan suhu tubuh, pemisah antarmeja, pengurangan kapasitas tempat duduk, pembatasan waktu makan, pengurangan menu, dan dukungan untuk karyawan bisa memberikan gambaran masa depan bagi pemilik restoran dan pelanggan.


“Sekarang segalanya perlahan kembali ke tempat seharusnya,” kata Hussein. “Saya sengaja tidak mengatakan ‘normal.’ Restoran manapun di dunia ini yang menunggu segalanya kembali normal akan menunggu dalam jangka lama.”


Di Hong Kong hanya empat orang yang meninggal dan kurang dari 30 orang di rumah sakit. Meskipun Hong Kong berhasil mengatasi virus Corona, Hong Kong tetap menghindari lockdown ketat yang diberlakukan di negara lain. Restoran-restoran di sana sempoyongan.


Tommy Cheung, legislator yang mewakili industri catering memprediksi 40% restoran Hong Kong akan tutup permanen musim gugur nanti. Husaain satu-satunya yang agak optimistis: “Sepertiga industri ini akan berkurang,” ucapnya.


Black Sheep mengalami ketakutan di hari-hari awal pandemi. Ketika ada tamu dari luar negeri yang mengunjungi Buenos Aires Polo Club dites positif Covid-19, restoran terpaksa tutup sementara meski sudah mengadopsi protokol ketat.


Restoran Hussain menyesuaikan pelayanan. Pada saat tertentu menawarkan paket diskon sambail menerapkan aturan ketat bagi pelanggan yang ingin makan di tempat. Hussain melihat orang-orang juga tidak betah berlama-lama di restoran seperti biasanya. Meski sudah diupayakan untuk menyesuaikan pelayanan dengan pembatasan sosial, dalam dua hari berturut-turut Hussain pernah tak mendapat penghasilan sama sekali. Pemintaan turun setidaknya 50% selama puncak pandemi.


Jenis aturan keamanan yang diterapkan di Hong Kong seperti penjarakan fisik dan pengukuran suhu tubuh bisa membuat pelanggan merasa aman, namun mereka juga bisa menganggap restoran sebagai tempat yang berisiko bagi kesehatan.


Sebuah restoran bernama Shing Kee Noodles di Sha Tin yang berdiri sejak 1956, Cheung Man-keung melihat apa yang terjadi jika kepercayaan pelanggan hilang. Setelah sekian banyak kasus Covid-19 dikaitkan dengan restoran hot-pot akhir Januari silam. Usaha Cheung dulu bisa menarik 100-150 pelanggan untuk makan malam. Setelah merebaknya Covid-19, pemesan turun menjadi 10-12. Sebagian restorannya masih tutup dan regulasi pembatasan membuat meja besar yang bisa diisi 12 orang, kini hanya diisi oleh beberapa orang.

Cheung merupakan generasi ketiga di keluarganya yang mengelola Shing Kee. Ia berhenti membiayai dirinya sendiri dan sejauh ini menghindari merumahkan karyawan. Layaknya pemilik retoran lain, ia takut penutupan restoran tidak hanya memukul karyawan dan keluarganya tapi juga masyarakat. Selama bertahun-tahun ia memberikan makan dan potong rambut gratis bagi penduduk lanjut usia di perumahan di mana restoran berlokasi. Juga sejarah oral bagi siapapun yang bertanya.


Selama pandemi, dia membantu mendistribusikan bingkisan yang berisi penyanitasi, sabun, dan serbet. “Kami terikat pada komunitas setempat,” ujarnya. “Kami telah kehilangan uang selama berbulan-bulan, namun saya tak bisa membayangkan jika kami harus tutup. Saya tak bisa mengabaikan orang-orang yang kami layani.”


Ditanya adakah pandemi selama puluhan tahun pengalamannya di industri restoran, Cheung menjawab tidak. Bahkan mengukur pandemi SARS 2003 silam dengan krisis saat ini, ia menjawab, “Bagaikan kunang-kunang dengan bulan.” (Al-Hanaan)


Image by Pickup Image from Pixabay

Comments


bottom of page