top of page

Kemenperin Dukung KIT Batang dengan Pemukiman Industri yang Berkelanjutan

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Jul 26, 2020
  • 2 min read


Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyiapkan kawasan industri untuk menampung sejumlah pabrik multinasional yang akan merelokasi perusahaan ke Indonesia. Untuk itu, dibutuhkan area terintegrasi agar aktivitas industri bisa berjalan efisien dan bisa menjadi daya tarik bagi para investor.


"Salah satunya yang sedang kami akselerasi pembangunannya adalah Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Jawa Tengah. Ini sebagai tindak lanjut dari hasil kunjungan Bapak Presiden Joko Widodo pada akhir Juni lalu," kata Dody Widodo, Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin pada Minggu (26/7/2020).



Relokasi ini terkait dengan kunjungan kerja Presiden Joko Widodo pada Selasa (30/6/2020) di Desa Ketanggan, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang. Relokasi tersebut akan memberikan nilai investasi sebesar US$850 juta (Rp 11,9 T) dan menyerap sekitar 30.000 tenaga kerja setempat.


Ketujuh perusahaan tersebut merelokasi bisnisnya dari Cina, Jepang, Taiwan, Muang Thai, Malaysia, dan Korea Selatan. Mereka bergerak di bidang elektronik, audio dan video, lampu bertenaga surya, dan suku cadang kendaraan bermotor yang berorientasi ekspor.


Pada Jumat (24/7/2020), Dirjen KPAII kembali meninjau kemajuan pembangunan KIT Batang.

"Kami menyampaikan bahwa pemerintah ingin pembangunan 450 hektare dari total lahan 4.300 hektare bisa selesai dalam kurun waktu enam bulan," imbuh Dody.


Dari segi infrastruktur, Dody mengatakan Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang memiliki daya tarik untuk menjawab keluhan para investor.


"Biasanya keluhan utama dari investor, yakni tentang harga lahan yang bergejolak tinggi setelah ditetapkan menjadi kawasan industri. Namun, harga lahan dan fasilitas di KIT Batang mampu bersaing dengan kawasan industri di negara lain seperti Cina," ungkap Dody.



Dukungan Kemenperin terhadap pengembangan KIT Batang berupa konsep The Smart and Sustainable Industrial Estate. Ke depannya, KIT Batang akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti perumahan pekerja, unit pendidikan, layanan kesehatan, dan ketersediaan rantai pasok antara sektor industri.


"Sekitar 108 hingga 2.027 hektare akan dibangun sampai tahun 2024, tidak hanya sebagai daya tarik, tapi menjadi supply chain di koridor Pantura Jawa," tutur Dody.


Selanjutnya, KIT Batang akan menjadi kawasan industri percontohan kerja sama antara pemerintah dan BUMN. Konsep infrastruktur dasar dan pendukung KIT Batang disediakan oleh pemerintah. Mulai dari akses jalan untuk tol dan non-tol, penyediaan air baku dan air bersih, kereta api, listrik, gas, terminal kontainer darat (dry port), dan pelabuhan.


Di samping itu, KIT Batang akan dikembangkan sesuai klaster industri, bukan berdasarkan negara asal perusahaan. KIT Batang didorong untuk mengalokasikan minimal lima persen dari luas lahan untuk klaster Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Hal ini sesuai dengan asas efektifitas dan efisiensi ekonomi untuk memudahkan penyediaan fasilitas pendukung.



Bupati Batang, Wihaji akan meminta dukungan dari berbagai kementerian dengan regulasinya untuk mempercepat investasi di Batang. Investasi itu diharapkan menyerap tenaga kerja dan memacu perputaran uang serta perekonomian.


"Inilah analogi KIT Batang yang kita persiapkan bunga-bunganya agar lebah berdatangan yang akhirnya melahirkan madu," tandas Wihaji. (Al-Hanaan)


Foto: Kemenperin



Comments


bottom of page