top of page

Kemenperin: Desain Kemasan Produk Harus Dukung Protokol Kesehatan

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Aug 30, 2020
  • 3 min read


Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong pelaku industri kecil menengah (IKM) untuk memperhatikan desain produk. Desain kemasan yang menarik berpengaruh terhadap nilai jual dan daya saing produk. Standar produk IKM harus memenuhi pemilihan bahan baku, proses produksi, sampai pengemasan produk dan labeling.


Tak heran, industri desain produk kemasan berkontribusi signifikan dalam perekonomian nasional. Terlebih, beragam desain produk nasional di sektor industri kreatif kian diminati di pasar global.


"Dunia industri kini sedang menghadapi tantangan, termasuk pada pembuatan desain produknya. Oleh karena itu, desain produk perlu mengusung berbagai aspek, yakni sosial, ekonomi, lingkungan hingga kesehatan sekaligus mampu menciptakan produk yang ramah lingkungan," kata Gati Wibawaningsih, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin, Jakarta, Sabtu (29/8/2020).


Menyesuaikan dengan situasi di masa adaptasi kebiasaan baru, desain produk IKM juga dituntut untuk mendukung implementasi protokol kesehatan.



"Fungsi kemasan yang tidak hanya sebagai wadah atau pembungkus saja, tetapi juga diharapkan bisa menjaga keselamatan dan kesehatan konsumen sehingga menjadi salah satu faktor dalam meningkatkan daya tarik pembeli," ujar Gati.


Untuk menjawab tantangan itu, Kemenperin membentuk unit layanan publik, yaitu Klinik Pengembangan Desain Merek dan Kemasan. Klinik itu memberikan layanan bimbingan dan konsultasi pengembangan desain kemasan bagi produk IKM. Harapannya, mutu kemasan produk meningkat dan berdaya saing tinggi.


Sejak awal berdiri pada 2003 hingga sekarang, IKM yang difasilitasi berasal dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi, dan Papua.


"Fungsi klinik tersebut didukung oleh 25 Rumah Kemasan daerah yang tersebar di Indonesia. Dalam kurun waktu tahun 2015 sampai dengan Juni 2020, telah difasilitasi sebanyak 913 IKM, di mana 82,04% merupakan IKM pangan (makanan dan minuman), diikuti IKM kerajinan 9,53% dan IKM sandang 6,13%," ungkap Gati.


Di samping itu, Ditjen IKMA mempunyai unit layanan publik lain, yaitu Klinik Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Tujuannya memberikan pengetahuan dan pemahaman serta memfasilitasi pelaku IKM mendapatkan perlindungan terhadap karya-karya intelektual.


Layanan Klinik HKI meliputi paten, merek, indikasi geografis, cipta, desain industri, rahasia dagang dan Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (DTLST) melalui pelatihan, bimbingan dan konsultasi, advokasi, layanan pendaftaran, serta promosi dan informasi.



"Industri pengemasan saat ini tidak bisa dipisahkan dari dunia industri secara umum. Seiring dengan meningkatnya industrialisasi yang telah melangkah ke arah industri 4.0, tentunya industri pengemasan bergeliat lebih cepat lagi," papar Gati.


"Desain memiliki porsi yang cukup besar dalam penciptaan nilai tambah produk, karena berpengaruh terhadap rantai nilai sebuah produk, mulai dari bahan baku, proses produksi hingga penyampaian produk kepada konsumen," lanjut Gati.


Desain Produk dan Ekonomi

Berdasarkan Global Industrial Design Market 2020 Research Report, nilai pasar global dari desain produk industri mencapai USD45,38 miliar pada 2019. Nilai ini akan menembus hingga USD65,41 miliar pada 2026 mendatang.



"Tingkat pertumbuhan produk industri tersebut, diproyeksi sebesar 5,3 persen pada periode 2021-2026. Hal ini menunjukkan besarnya peluang di sektor desain produk industri yang dapat terus dioptimalkan di tengah tantangan kondisi global, termasuk dampak dari pandemi Covid-19," terang Gati.


Adapun data Indonesia Packaging Federation (2020) menunjukkan kinerja industri kemasan di Indonesia diproyeksikan tumbuh sekitar 6% pada tahun 2020 dari nilai realisasi tahun lalu sebesar Rp98,8 triliun.


"Ditinjau dari materialnya, kemasan yang beredar sebesar 44% dalam bentuk kemasan fleksibel, 28% kemasan paperboard dan 14% kemasan rigid plastic," tutur Gati.



Proporsi tersebut diprediksi akan meningkat dibandingkan jenis kemasan lainnya. Pasalnya, peningkatan pasar digital yang pesat membuat mobilitas produk semakin tinggi.


"Karakteristik ketiga kemasan tersebut, dari sisi ekonomi dan daya tahan membuatnya menjadi pilihan yang lebih baik," pungkas Gati. (Al-Hanaan)


Foto: ANTARA


Comments


bottom of page