top of page

Juru Bicara BKPM: Jangan Ragu Berinvestasi di Masa Pandemi

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Jul 20, 2020
  • 2 min read


Pandemi Covid-19 melumpuhkan banyak sektor, terutama kesehatan dan ekonomi. Hancurnya perekonomian berdampak pada sektor turunannya, yaitu investasi.


Di masa pandemi, banyak orang menahan uang tunai karena pemasukan berkurang drastis. Jual aset pun tak selalu laku karena sebagian besar orang hampir tak ada pemasukan. Semua orang berpikir bagaimana bertahan hidup untuk kebutuhan dasar. Sedangkan menyisihkan uang untuk berinvestasi menjadi pilihan ke sekian. Padahal, memilih investasi yang tepat dan aman bisa membantu roda perekonomian tetap berputar.


Investasi merupakan kegiatan penanaman aset atau dana yang dilakukan oleh sebuah perusahaan atau perorangan untuk jangka waktu tertentu demi memperoleh timbal balik yang lebih besar di masa depan.


Investasi dapat dilakukan dengan cara membeli aset, produksi, mesin, dan inventori, atau melakukan hal-hal yang meningkatkan kegiatan usaha di masa depan.


Kepala Pusat Kajian Iklim Usaha, Mohamad D. Revindo mengatakan siapapun bisa berinvestasi mulai dari pada perusahaan domestik, usaha kecil, menengah, hingga perusahaan rumah tangga.


"Bisa dilakukan (pada) perusahaan domestik, usaha kecil menengah, maupun perusahaan rumah tangga juga bisa berinvestasi," kata Revindo saat diskusi di Media Center Gugus Tugas Nasional di Graha BNPB, Jakarta pada Jumat (17/7/2020).


Juru Bicara Komite Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Tina Talisa mengatakan investasi tak harus besar dan asing.


Menurut data BKPM, selama bulan Juni terdapat 57 ribu pelaku usaha yang mendaftarkan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan lebih dari 50 persennya dari sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).


"Ada 37 ribu pelaku usaha menengah dan kecil. Nah itu yang membuktikan bahwa investasi itu ga selalu, satu selalu besar, dan dua selalu asing," Tina memaparkan.


Saat ini, pelaku usaha lebih bijak dalam memilih sektor usaha yang aman selama pandemi. Usaha yang prospek selama pandemi adalah usaha di bidang kuliner dan kesehatan. Kedua usaha tersebut bisa beradaptasi dan menangkap peluang agar tetap bertahan.


"Masyarakat (ber)adaptasi luar biasa, industri juga beradaptasi. Sekarang kita sudah bisa ekspor. Nah artinya selalu dalam kondisi yang kita anggap tidak nyaman pun bisa ditangkap sebagai peluang," Tina menjelaskan.


Di sisi lain, pemerintah berusaha memulihkan investasi agar para investor tak hengkang dari Indonesia dan menarik penanaman modal asing sebanyak mungkin.


"Sejauh ini yang berinvestasi belum ada yang hengkang dan yang berencana investasi pun belum ada yang membatalkan, yang ada adalah penundaan waktu karena dalam posisi wait and see," terang Tina, mantan presenter TV itu.


Pada Kamis (30/6/2020), Presiden Joko Widodo mengumumkan relokasi tujuh perusahaan asing yang akan beroperasi di Kawasan Industri Terpadu Batang, Jawa Tengah. Tujuh perusahaan asing itu menanamkan modalnya ke Indonesia dan membuka lapangan kerja di masa pandemi Covid-19.


Dari sisi perizinan, Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2019 menyatakan pelimpahan kewenangan berada di bawah BKPM. Tujuannya adalah memudahkan para pelaku usaha dalam mengurus perizinan agar lebih cepat dan mudah dibawah koordinasi BKPM.


BKPM juga mewajibkan setiap investor besar asing untuk menggandeng UMKM. Tujuannya agar pengusaha UMKM mampu bersaing dengan bantuan modal dan teknologi yang lebih baik.


Pandemi Covid-19 membawa berkah tersendiri bagi yang mampu beradaptasi. Untuk itu, jangan ragu berinvestasi di masa pandemi.


"Kita sama-sama punya optimisme. Kita sama-sama bergerak bersama untuk langkah yang lebih cepat supaya kalau ada investor dalam dan luar, kita tarik masuk dan kita pertahankan di Indonesia untuk terus memutar roda perekonomian lewat lapangan kerja," Tina memungkasi. (Al-Hanaan)


Foto: covid19.go.id

Comments


bottom of page