top of page

Iklim Kondusif, Investasi Manufaktur Semester I-2020 Meningkat 23,9 Persen

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Jul 28, 2020
  • 2 min read


Di tengah pandemi Covid-19, sektor industri masih mendapat kucuran dana investasi. Bahkan, sepanjang semester I tahun 2020, jumlah investasi sektor industri mengalami peningkatan hingga Rp129,6 triliun (23,9%) dibandingkan capaian periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp104,6 triliun.


"Pemerintah bertekad untuk terus mewujudkan iklim berusaha yang kondusif melalui kebijakan strategis, yang bisa menjadi daya tarik bagi para investor asing maupun domestik supaya mereka semakin percaya diri menanamkan modalnya di Indonesia," kata Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian di Jakarta pada Selasa (28/7/2020).



Menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sektor industri berkontribusi sebesar Rp402,6 triliun (32,2%) terhadap perolehan devisa pada Januari-Juni 2020.


Adapun lima sektor yang paling banyak menanamkan modal selama semester I tahun 2020, diantaranya:


  1. Industri logam dasar, barang logam, dan bukan mesin sebesar Rp45,2 triliun

  2. Industri makanan sebesar Rp26,2 triliun

  3. Industri kimia dan farmasi sebesar Rp19,5 triliun

  4. Industri mineral non-logam sebesar Rp6,1 triliun

  5. Industri kendaraan bermotor dan alat transportasi sebesar Rp6 triliun


Hal ini menunjukkan iklim investasi di Indonesia masih kondusif di tengah pandemi. Sektor yang menjadi incaran yaitu industri padat karya, substitusi impor, dan teknologi tinggi.


Menperin mengatakan selama ini pihaknya proaktif mengundang investor untuk merelokasi pabriknya di Indonesia. Alhasil, Indonesia bisa menjadi negara tujuan basis produksi dalam memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.


"Kami mendorong investasi ini untuk memproduksi barang-barang pengganti-impor serta meningkatkan penggunaan bahan baku yang diproduksi secara lokal dan barang setengah jadi," ujar Agus.



Untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif, Agus memfasilitasi kemudahan izin usaha dan pemberian insentif fiskal dan non-fiskal. Bagi Agus, pandemi Covid-19 merupakan momentum untuk melihat struktur manufaktur dalam negeri.


"Hal ini terlihat karena kita masih butuh beberapa bahan baku atau barang modal dari negara lain, baik itu hasil sektor hulu maupun intermediate. Jadi, apabila negara asal tersebut sedang terguncang, kita juga ikut terpengaruh," ujar Agus.


Inilah pentingnya rantai pasok yang terintegrasi guna meningkatkan daya saing industri manufaktur. Di sini peran investasi cukup besar untuk mengisi kekosongan sektor yang ada pada industri nasional. Terbukti selama lima tahun terakhir, pengembangan kawasan industri meningkat baik dari sisi jumlah maupun luas.


"Kami telah memfasilitasi pembangunan kawasan-kawasan industri terpadu yang bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk menarik investor skala global," ungkap Agus.


Kemenperin mencatat jumlah kawasan industri meningkat 40 persen. Sedangkan, luas kawasan industri meningkat sebesar 16.238,59 hektare. Saat ini, Indonesia memiliki 112 kawasan industri dengan total luas lahan 52 ribu hektare.


"Sebanyak 27 kawasan industri sedang kami pacu pengembangannya hingga tahun 2024, yang tersebar di berbagai wilayah seperti Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua," imbuh Agus.


Himpunan Kawasan Industri (HKI) menyatakan sebanyak 50 investor masuk ke kawasan industri per Juni 2020. Ketua Umum HKI sekaligus Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kawasan Ekonomi, Sanny Iskandar menjelaskan kebanyakan investor berasal dari luar negeri.



Sebanyak 50 investor itu menanamkan modal di 17 kawasan industri dengan luas lahan mencapai 139,31 hektare. Sebanyak 29 PMA menempati lahan seluas 99,44 hektare dan 21 PMDN menempati lahan seluas 44,87 hektare.


Kebanyakan bisnis yang ditanami modal asing adalah otomotif dan turunannya. "Kemudian sektor makanan, logistik, kimia, dan industri manufaktur lainnya," tutur Sanny. (Al-Hanaan)


Foto: Kemenperin



Comments


bottom of page