Ekspor Manufaktur Capai 79 Persen Lebih di Semester I-2020
- MyCity News

- Jul 22, 2020
- 2 min read

Industri pengolahan non-migas adalah industri yang paling besar berkontribusi dalam capaian nilai ekspor nasional. Selama semester I tahun 2020, total nilai pengapalan produk sektor manufaktur mencapai USD60,76 miliar (79,52%) dari ekspor nasional yang mencapai USD76,41 miliar.
"Terus terang saya cukup surprise dengan hasil kinerja ekspor industri pengolahan non-migas saat ini. Di luar dugaan, kinerja ekspor sektor industri manufaktur ternyata masih mencatatkan kontribusi yang positif," kata Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian pada Selasa (21/7/2020).
Ia menegaskan pihaknya terus menjaga keberlangsungan aktivitas industri manufaktur di Indonesia. Sebabnya, sektor industri manufaktur adalah tulang punggung perekonomian nasional.
"Kami bertekad untuk senantiasa menggenjot kinerja industri yang memiliki orientasi ekspor. Dilihat dari sumbangsihnya terhadap struktur nilai ekspor nasional, sektor industri berkontribusi 79,52 persen pada semester I-2020 atau naik dibanding periode yang sama tahun 2019 sebesar 75,47 persen," papar Agus.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekspor industri pengolahan non-migas pada Juni 2020 naik sebesar USD9,6 miliar (15,96%) dibandingkan bulan Mei 2020 sebesar USD8,3 miliar.
Nilai pengapalan produk industri manufaktur pada bulan Juni 2020 meningkat 7 persen dibandingkan Juni 2019 yang sekitar USD9 miliar.
"Neraca perdagangan industri pengolahan non-migas pada bulan Juni 2020 mencatatkan surplus sebesar USD531,47 juta," ungkap Agus.
Berdasarkan volume, ekspor industri manufaktur pada Juni 2020 meningkat sebanyak 8,87 juta ton (9,28%) dibandingkan Mei 2020 sebesar 8,12 juta ton.
Sektor industri makanan dan minuman mencapai USD2,23 miliar. Jumlah ini menyumbang devisa terbesar dari nilai ekspor industri pengolahan non-migas pada Juni 2020.
Disusul oleh sektor industri logam dasar sebesar USD1,67 miliar serta pengapalan produk industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia sebesar USD1 miliar.
Beberapa sektor yang mengalami kenaikan ekspor di atas 30 persen dari bulan Juni diantaranya:
Industri pencetakan dan reproduksi media rekaman dengan nilai ekspor USD2,55 juta (228,63%)
Industri alat angkutan lainnya dengan nilai ekspor USD131,83 juta (74,15%)
Industri peralatan listrik dengan nilai ekspor USD383,55 juta (50,39%)
Industri tekstil dengan nilai ekspor USD271,38 juta (45,38%)
Industri barang galian bukan logam dengan nilai ekspor USD83,85 juta (44,19%)
Industri kendaraan bermotor, trailer, dan semitrailer dengan nilai ekspor USD223,69 juta (37,98%)
Industri pakaian jadi dengan nilai ekspor USD561,76 juta (37,90%)
Industri komputer, barang elektronik, dan optik dengan nilai ekspor USD520,11 juta (36,79%)
Industri karet, barang dari karet, dan plastik dengan nilai ekspor USD486,36 juta (35,95%)
Untuk sektor yang mengalami peningkatan ekspor di atas 30 persen dibandingkan tahun lalu diantaranya:
Industri furnitur dengan nilai ekspor USD164,70 juta (80,87%)
Industri farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional dengan nilai ekspor USD58,37 juta (42,41%)
Industri pengolahan tembakau dengan nilai ekspor USD104,23 juta (42,38%)
Industri pencetakan dan reproduksi media rekaman dengan nilai ekspor USD2,55 juta (41,38%)
Industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki dengan nilai ekspor USD433,07 juta (40,76%)
(Al-Hanaan)
Foto: pixabay



Comments