top of page

Dorong Integrasi Koperasi, KemenKopUKM: Koperasi Tak Hanya Rantai Ekonomi dari Pelaku Usaha Besar

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Aug 4, 2020
  • 2 min read


Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki berharap pelaku usaha anggota Koperasi Simpan Pinjam (KSP) bergabung dengan jenis koperasi lain seperti koperasi produksi, pengolahan, hingga koperasi pemasaran, untuk meningkatkan usahanya. Bagi Teten, koperasi tak sekadar pembiayaan.


"Saya ingin ada integrasi antara pembiayaan, produksi, pengolahan, hingga pemasaran, dengan berkoperasi," ungkap Teten dalam kunjungan KSP Kopdit Mekar Sai, di Bandar Lampung, Sabtu (25/7/2020).



Menurut Teten, sektor pertanian harus dilengkapi dengan industri pengolahan. Dalam hal ini, koperasi tak hanya membiayai UKM.


"Petani yang menjadi anggota Kopdit Mekar Sai, bila sudah besar bisa saja membuat atau bergabung dengan koperasi pertanian," ungkap Teten.


Teten mengatakan kebutuhan petani adalah modal kerja, modal investasi, dan modal talangan. Dalam kondisi ini, koperasi harus menjadi penyalur (offtaker) bagi produk pertanian dan mengonsolidasi UMKM.


Pihaknya terus menata koperasi di Indonesia sehingga koperasi bisa melindungi anggota ketika hasil produk yang melimpah tak diserap pasar. Misalnya, koperasi bisa mengolah produk bawang goreng ketika harga bawang merah jatuh.


"Koperasi juga harus melindungi anggota dari kekuatan pasar terkait fluktuatif harga. Koperasi memiliki bargaining kuat untuk nego harga," terang Teten.



"Masyarakat UMKM butuh pembiayaan yang mudah dan murah. Karena, koperasi bukan sekadar lembaga pembiayaan saja melainkan juga lembaga bisnis, sosial, dan pendidikan," katanya.


Teten berharap Kopdit Mekar Sai yang berusia 28 tahun dengan 18 ribu anggota dikembangkan dengan memasuki sektor pertanian, perikanan, peternakan, dan pariwisata.


"Idealnya, koperasi itu bukan sekadar menjadi rantai ekonomi dari pelaku usaha besar," tandas Teten.



Di sisi lain, Ketua Pengurus KSP Kopdit Mekar Sai Antonius Suharyono Daud mengungkapkan aset Kopdit Mekar Sai sebesar Rp571,47 miliar.


Sampai sekarang, koperasi terus mengguyur dana di sektor pertanian. Harapannya, petani bisa menjadi agripreneur yang mampu menciptakan benih dan produk pertanian berkualitas.


Koperasi dan anggotanya sudah bisa bertransaksi secara digital. Bahkan, tahun ini Kopdit Mekar Sai menggarap pelaku startup dengan mentoring dari Universitas Lampung.


"Di lapangan, kita terus melakukan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan dan pendidikan. Kita membantu masyarakat untuk sadar memiliki cita-cita finansial yang baik," ungkap Suharyono.


Dalam kesempatan itu, Wakil Gubernur Lampung, Lampung Chusnunia Halim mendorong pelaku UMKM untuk mengembangkan produk khas masing-masing wilayah di Lampung.



Bagi Chusnunia, koperasi pertanian dan pemasaran harus menjadi jawaban bagi kesejahteraan petani.


"Saya berharap ekonomi Lampung tetap bisa survive, harga produk pertanian bagus untuk petani, hingga menghasilkan produk yang berkualitas", pungkas Chusnunia. (Al-Hanaan)


Foto oleh Quang Nguyen Vinh dari Pexels


Comments


bottom of page