Cetak Pengusaha Santri, Kemenperin Hidupkan Program Santripreneur
- MyCity News

- Aug 4, 2020
- 3 min read
Updated: Aug 7, 2020

Dalam kondisi krisis ekonomi, UMKM adalah penyelamat resesi. Pasalnya, UMKM adalah industri padat karya yang banyak menyerap tenaga kerja. Sehingga perputaran uang juga paling banyak di kalangan UMKM. Tentu, UMKM tak sendiri. Ada koperasi sebagai lembaga pembiayaan.
Menurut Badan Pusat Statistika (BPS), jumlah koperasi pada 2019 sebanyak 152.172 unit. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi domestik, koperasi meningkat sebesar 53,8% dari 81.868 unit pada 2006.
Sedangkan menurut Kementerian Keuangan, jumlah UMKM sebanyak 64,2 juta unit pada 2018. UMKM berkontribusi sebesar 60,3% pada produk domestik bruto (PDB) Indonesia dan menyerap 97% dari 99% jumlah lapangan kerja di Indonesia.
Melihat fakta di atas, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berupaya menumbuhkan wirausaha baru (WUB) di sektor industri kecil menengah (IKM). Langkah strategis yang diambil adalah menghidupkan kembali program Santripreneur.
"Kami terus menggalakan program Santripreneur ini karena melihat potensi besar dari pesantren dan para santrinya," kata Gati Wibawaningsih di Jakarta, Selasa (4/8/2020).
Menurut data Kementerian Agama, jumlah pesantren sebanyak 28.194 unit dengan total 4,2 juta santri pada Agustus 2019. Sekitar 23.331 ponpes (80%) tersebar di empat provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Banten.
Untuk itu, Kemenperin mengadakan Penumbuhan dan Pengembangan WUB dalam bentuk bimbingan teknis dan fasililtasi mesin dan peralatan.
Kemenperin memfasilitasi mesin dan peralatan produksi pada IKM bidang makanan dan minuman (mamin), perbengkelan roda dua, kerajinan boneka dan kain perca, konveksi busana muslim dan seragam, daur ulang sampah, dan produksi pupuk organik cair, kosmetik dan homecare, serta paving block.
Sejak 2013, program Santripreneur membina 75 pesantren dan 9.988 santri. Harapannya, lahir wirausaha sektor IKM dari lingkungan pesantren.
Tahun 2020, program Santripreneur menyasar sejumlah ponpes yang tersebar di berbagai wilayah di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang meliputi Kota Malang, Kabupaten Malang, Kab. Purworejo, Kab. Kendal, Kab. Batang, Kota Semarang dan Kab. Demak.
“Kegiatan fasilitasi mesin dan peralatan ini dijalankan di Ponpes Bahrul Maghfiroh, Ponpes An Nur II Al Mutadlo, Ponpes Al Iman, Ponpes Nuril Anwar, Ponpes Azzahro’, Ponpes Al Minhaj, Ponpes Askhabul Kahfi, dan Ponpes Sholihiyyah,” sebut Gati.
"Pesantren dan para santri yang ada di pondok merupakan potensi yang dapat dikembangkan dengan stimulus yang tepat guna dan tepat sasaran. Kami melihat banyak pesantren yang sudah dapat memenuhi kebutuhan internal pesantren bahkan memiliki unit bisnis yang juga melayani kebutuhan luar pesantren," ungkap Ditjen IKMA.
Baca Juga: Pulihkan Ekonomi Nasional, Pemerintah Kucurkan Ratusan Triliun Untuk Kredit Modal Kerja Padat Karya
Menurut data Global Entrepreneurship Index 2019, Indonesia berada di tingkat 75 dari 137 negara dalam kewirausahaan. Posisi Indonesia meningkat 14 tingkat dibanding tahun sebelumnya.
"Ini adalah tugas dan tanggung jawab bersama antara pemerintah dengan masyarakat, terutama bagi para santri untuk bersama-sama membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih baik. Oleh karena itu, kami mendorong agar para santri selepas lulus dari pondok tidak hanya menjadi guru di mushola atau masjid tapi juga menjadi seorang Santripreneur," terang Gati, Ditjen IKMA.
Pesantren didukung oleh lokasi strategis yang berada di tengah pemukiman penduduk. Kedekatan dengan masyarakat inilah yang membuat industri pesantren berkembang pesat jika dikelola dengan baik.
"Jadi, bisa menjalankan wirausaha di bidang yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar," lanjut Gati.
Di sisi lain, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Malang, Wahyu Setianto mengapresiasi Ditjem IKMA atas program Santripreneur.
Program itu dapat memberdayakan ekonomi berbasis pondok pesantren (ponpes), mengembangkan jiwa kewirausahaan di kalangan santri, dan menguatkan ekonomi produktif berbasis industri.
"Apalagi di tengah era beradaptasi dengan kebiasaan baru saat ini, recovery ekonomi daerah menjadi fokus kita saat ini. Karena itu, skema-skema pelatihan atau bimtek untuk menumbuhkan wirausaha baru dan peningkatan kapasitas pelaku IKM diiringi dengan pemberian bantuan peralatan dan mesin produksi akan mengakselerasi pergerakan para pelaku IKM," ungkap Wahyu. (Al-Hanaan)
Foto: Kemenperin



Comments