Bos Garuda Indonesia Beberkan Strategi Pemulihan Kinerja
- MyCity News

- Aug 4, 2020
- 2 min read

Setelah mengalami penurunan drastis terkait kinerja akibat dampak dari pandemi Covid-19, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) menegaskan akan mengoptimalisasi pendapatan melalui pendapatan penumpang penerbangan berjadwal, layanan kargo udara hingga penerbangan carter.
Selain melakukan optimalisasi pendapatan, perusahaan juga melakukan pengelolaan biaya, di antaranya negosiasi biaya pengelolaan pesawat, restrukturisasi utang hingga melakukan efisiensi biaya operasional. Demikian penuturan Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra.
"Namun demikian kami terus memperkuat langkah pemulihan kinerja seoptimal mungkin agar Perseroan dapat segera rebound dan memperoleh pencapaian kinerja yang semakin membaik. Fokus utama kami adalah mengupayakan perbaikan fundamental Perseroan secara terukur dan berkelanjutan," kata Irfan dalam siaran pers yang diterima MyCity, Selasa (4/8/2020).
Baca Juga:
Pembatasan pergerakan dan penerbangan pada masa pandemi membuat kinerja perusahaan terdampak signifikan. Irfan menegaskan, sebelumnya Garuda Indonesia melayani 400 penerbangan per hari menjadi hanya berkisar di angka 100 penerbangan.
Selain itu juga terjadi penurunan jumlah penumpang yang drastis hingga mencapai 90%.
Hingga akhir Juni 2020, perusahaan mencatatkan kerugian mencapai 712,72 juta dolar AS (Rp 10,40 triliun) pada Akhir semester I-2020. Pada sepanjang kuartal I-2020 lalu Garuda juga membukukan kerugian bersih senilai 120,1 juta dolar AS.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun lalu dimana perusahaan berhasil mencatatkan laba bersih senilai 24,11 juta dolar AS.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pendapatan perusahaan pada periode ini mengalami penurunan drastis sampai 58,18% secara year on year (YoY). Pendapatan perusahaan tercatat senilai 917,28 juta dolar AS (Rp 13,39 triliun), turun tajam dari 2,19 miliar dolar AS di akhir Juni 2019 lalu.
Penurunan paling tajam terjadi pada pendapatan dari penerbangan berjadwal yang turun menjadi 750,25 juta dolar AS dari sebelumnya di enam bulan pertama tahun lalu senilai 1,85 miliar dolar AS. (Arie Nugroho)



Comments