top of page

Bisnis Kopi, Ladang Surga Indonesia di Tengah Pandemi Corona

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Jul 22, 2020
  • 3 min read


Catatan sejarah menunjukkan bahwa kopi telah ada sejak abad ke-9. Dataran tinggi Ethiopia adalah pelopor pemanfaatan biji kopi pertama di dunia. Melalui proses perdagangan oleh bangsa Arab, kopi berhasil menjamur ke seluruh dunia hingga saat ini.


Karena banyak dicari dan diminati, kopi dinobatkan sebagai komoditas yang kedua yang paling banyak diperdagangkan di dunia. Demikian isi buku tahunan komoditas dari konferensi PBB mengenai perdagangan dan pembangunan periode 1970-1998.


Baca Juga:


Berdasarkan data dari World Atlas pada tahun 2019, Brasil menempati posisi pertama negara penghasil kopi terbanyak di dunia. Negeri asal Amerika Selatan itu menghasilkan 2,652,000 Metric Tons kopi dengan produksi senilai 5,714,381,000 poundsterling.


Posisi kedua dan ketiga ditempati oleh Vietnam dan Kolombia. Lantas, Indonesia berada di posisi keempat penghasil kopi terbanyak di dunia. Tanah Air menghasilkan 11,000,000 Metric Tons kopi dengan produksi 1,455,050,000 poundsterling.


Brasil, Vietnam, dan Kolombia saat ini sedang menjalani karantina wilayah (lockdown) akibat pandemi Covid-19. Terkait hal itu, Aljunishar atau yang biasa dipanggil dengan sebutan Agam, pendiri Fakultas Kopi, Processing Consultant, dan Coffeeshop Planner, menyatakan sudah saatnya Indonesia mengisi slot-slot yang ditinggalkan Brasil dan negara lainnya.


"Peluang besar juga untuk pemerintah. Brasil dan Kolombia itu masih lockdown. Sementara 2/3 kopi di dunia masih dipasok Brasil. Ini kesempatan buat Indonesia mengisi slot kosong yang tadinya ditempati Brasil. Nah ini yang saya lihat masih kurang," ujarnya kepada MyCity, Selasa (21/7/2020).


"Pemerintah harusnya membantu pasar. Permasalahan di Indonesia itu bukan skill, lebih krusial itu di pasarnya. Otomatis karena terjadi pandemi seperti ini, daya beli berkurang jauh. Kesempatan orang menikmati kopi juga banyak berkurang karena tidak boleh berkumpul dalam jumlah besar," dia menambahkan.


Berdasarkan Fairtrade Foundation, lebih dari 125 juta orang di seluruh dunia menggantungkan hidup mereka pada kopi. Bahkan, sekitar 25 juta pertanian kecil memproduksi sekitar 80% dari produksi kopi sedunia.


Jika menilik pengonsumsi terbanyak, Finlandia dan Swedia menjadi yang terdepan. Berdasarkan data Organisasi Kopi International, orang-orang Finlandia minum kopi 12,5 kilogram setiap tahun.


"Jika pemerintah bisa mengangkat pasarnya, skill kawan-kawan di kopi itu sudah cukup bagus. Yang jadi masalah sekarang itu adalah orang punya skill, mau jual apa gitu karena pasarnya terhalang dua faktor tadi," tegas dia.


Bisnis UMKM Kedai Kopi


Beberapa waktu lalu, Menteri Koperasi dan UKM , Teten Masduki, mendorong pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) berbasis kopi menjadi pemasok untuk pengadaan barang/jasa, termasuk minuman di kementerian/lembaga pemerintah.


Terkait hal itu, Teten menjelaskan pihaknya telah menjalin kerja sama dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) sehingga nantinya produk-produk khusus UKM, termasuk kopi, dapat terdaftar di e-katalog dan masuk dalam pengadaan belanja pemerintah.


Di sisi lain, Kementerian Koperasi dan UKM memiliki program dalam mendorong pengembangan bisnis kedai kopi yang dijalankan koperasi dan UKM. Di antaranya, fasilitas skim untuk wirausaha pemula, fasilitasi sertifikasi produk antara lain Merek, Halal, Hak Cipta, HACCP dan ISO, serta pendampingan usaha dan kelembagaan melalui Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUKM.


"Kalau Kementerian UMKM dan Koperasi sendiri arahnya lebih ke membantu penguatan kapasitas, kelembagaan dengan kita berusaha menjembatani. Kalau kepetingan petani kan suka atau tidak suka adalah ranahnya Kementerian Pertanian. Kita berusaha menjembatani dengan yang di hilir tadi dengan regulasi, pameran," tegas Agam.


Meski demikian, di tengah meningkatnya industri kopi, justru perkembangan hulu kopi Indonesia masih kalah dengan negara lain seperti Brasil, Columbia dan Vietnam. Saat ini, kopi Indonesia masih berada di posisi ke empat.


"Kalau kita lihat dari program Kementerian Koperasi kan digitalisasi UMKM. Di kopi kita bisa bagi jadi dua, ada UMKM hulu yaitu para petani dan processor dan UMKM hilir dari roastery dan kedai kopi," tutur Agam.


"Kita lihat dari kedai kopi itu ranah Kementerian Pariwisata karena itu termasuk plesir. Jadi kita kategorikan itu industri pariwisata. UMKM di kopi ini kalau kita lihat dari dukungan pemerintah adalah bagaimana menciptakan regulasi, menciptakan iklim usaha yang bagus. Contoh, perizinan dipermudah. Tak perlu lagi ada gangguan dari kiri dan kanan," sambung dia.


Kopi merupakan bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Namun di sisi lain, terjadi banyak persoalan, seperti banyaknya persaingan di bisnis kopi hingga penurunan ekspor. Bahkan, ekspor kopi Indonesia sempat mengalami penurunan pada 2019 lalu.


"Tetapi kalau kita lihat ke hulu. Lebih banyak dukungan dari Pemerintah Daerah, khususnya daerah-daerah penghasil kopi. Pemerintah Daerah masing-masing membantu promosi kopi, melakukan pameran, mengirimkan delegasi-delegasi," dia memungkasi.


Saat ini pemerintah pemerintah mengeluarkan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan dana Rp 123,46 triliun. Bahkan, Kemenkop UKM memberikan melalui pasal pasal 7 ayat 4 dari lampiran PMK No. 71 Tahun 2020 memberikan bantuan maksimal senilai Rp10 miliar. Oleh karenanya, industri UMKM kopi bisa menjadi solusi terbaik bagi Anda yang ingin berbisnis di tengah lesunya ekonomi akibat pandemi Covid-19. (Arie Nugroho)




Comments


bottom of page