Berpendapatan Rp808 Triliun, Ini Alasan Pertamina Tak Masuk Daftar Fortune 500
- MyCity News

- Aug 16, 2020
- 2 min read

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor minyak dan gas bumi, PT Pertamina (Persero) tidak masuk dalam daftar 500 perusahaan berpendapatan tertinggi di dunia menurut Fortune yang dikenal sebagai Fortune 500.
Menaggapi hal itu, Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini mengatakan daftar Fortune 500 merupakan aksi pengawasan pasif tanpa ada klarifikasi lebih lanjut ke perusahaan.
Dari sisi pendapatan, Pertamina seharusnya masuk ke daftar Fortune 500 atau 500 perusahaan berpendapatan tinggi di dunia.
Pada 2019, pendapatan Pertamina mencapai US$ 54,58 miliar atau Rp 808 triliun. Jumlah ini sejajar dengan perusahaan dengan peringkat ke-198 dunia, yaitu Nippon Steel Corporation dengan pendapatan US$ 54,45 miliar atau Rp 806 triliun (kurs Rp 14.800/US$).
"Kami juga sedang menelusuri kenapa bisa tidak tercatat, karena kalau dilihat dari ranking [peringkat] yang dipublikasikan oleh Fortune 500, seharusnya kami masih terdaftar di posisi 198 untuk tahun kinerja 2019," terang Emma, Sabtu (15/8/2020).
Tahun lalu, Pertamina bergeser dari peringkat ke-175 berdasarkan basis kinerja 2018. Ini disebabkan beberapa industri lain mengalami peningkatan seperti industri keuangan dan asuransi.
"Kami seharusnya bisa sejajar dengan peringkat ke-198, dengan Nippon (Nippon Steel Corporation). Sebetulnya kami masih berada dalam kisaran top 500," ucap Emma, mantan bos Telkomsel dan PT SMI (Persero).
Perusahaan minyak dunia lain yang masuk 10 besar Fortune 500 adalah China National Petroleum Corporation (CNPC) dan Saudi Arabian Oil Company (Saudi Aramco). CNPC sudah 20 kali berada dalam daftar tersebut sedangkan Saudi Aramco baru dua kali.
"Pada Desember 2019, Saudi Aramco akhirnya menjalani debut di pasar modal, sesuatu yang sudah lama dinantikan investor. Penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) Saudi Aramco berhasil meraup dana US$ 2 triliun, rekor tertinggi dunia. Berkat IPO, Saudi Aramco menjadi perusahaan dengan laba tertinggi di dunia tahun lalu, mencapai US$ 88 miliar," demikian keterangan Fortune. (Al-Hanaan)
Foto: Pertamina



Comments