Bank Dunia: Vested Interest dan Perusahaan Zombie Hambat Solvabilitas
- MyCity News

- Jun 3, 2020
- 1 min read

Bank Dunia menilai Virus Covid-19 menyebabkan resesi dan luka mendalam pada pasar emerging market dan negara berkembang. Kehancuran mendalam berimbas pada eksportir minyak.
Dalam laporan Global Economic Prospects, Bank Dunia menganalisis rerata negara emerging market yang menderita krisis finansial. Negara-negara tersebut mengalami penurunan output secara potensial sebesar 8% selama lebih dari lima tahun. Kerugian output untuk eksportir minyak negara berkembang turun sebesar 11%.
Melansir Reuters, Rabu (3/6/2020), perwakilan Bank Dunia mengatakan, prospek pertumbuhan meredup secara signifikan karena konflik perdagangan. Guncangan pandemi Covid-19 dengan mudah menyebar ke berbagai masalah solvabilitas bagi
negara-negara emerging market.
Emerging market adalah pasar berkembang. Negara emerging market adalah negara dengan ekonomi rendah menuju ke level menengah pendapat per kapita.
Suku bunga rendah dalam satu dekade terakhir turut berkontribusi pada rekor kenaikan utang negara. Para korporat di pasar berkembang juga membatasi kemampuan pengambil kebiijakan untuk menanggapi krisis dan mencegah penutupan bisnis, kehilangan pekerjaan, dan hancurnya sumber daya manusia.
"Jika kebijakan ditargetkan seluruhnya untuk menopang vested interest atau perusahaan zombie. Ini bisa menyebabkan masalah likuiditas yang berubah menjadi masalah solvabilitas," ujar Ceyla Pazarbasioglu, wakil presiden Equitable Growth, Finance, and Institutions (EFI) Bank Dunia.
Vested interest adalah kelompok orang yang mengontrol sistem sosial dan kegiatan untuk kepentingan pribadi. Tujuan pengendalian adalah agar tidak mengancam kepentingan, status, dan kedudukan yang sudah mengakar.
Perusahaan zombie adalah perusahaan yang masih beroperasi namun tidak memiliki pendapatan cukup untuk menutup utangnya. Perusahaan zombie ini jelas mengalami solvensi atau solvabilitas, yaitu kemampuan membayar kewajiban, termasuk utang.
"Apa yang sebenarnya dibutuhkan adalah aturan urgen untuk mengurangi kerugian dan kehancuran, tetapi juga menghindari kebijakan yang bisa menyebabkan krisis kesehatan yang berujung pada krisis ekonomi. pada akhirnya kriss ekonomi menjadi krisis finansial," tutup Ceyla. (Al-Hanaan)



Comments