Ahok Beberkan Cara Berantas Mafia Migas
- MyCity News

- Jun 29, 2020
- 2 min read

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Basuki Tjahja Purnama alias Ahok blak-blakan bicara soal cara memberantas migas di Indonesia. Sebelumya, Ahok mengatakan kalau sebetulnya mafia migas itu merupakan orang dalam.
"Itu (mafia migas) kan cuma istilah, menurut saya itu oknum di dalam. Banyak sekali kontrak nggak dibuat jangka panjang. Padahal kan, sebagai konsumen besar bangsa Indonesia, seharusnya kita bargaining gitu," ungkap Ahok kepada Andy. F Noya, Minggu (28/6/2020).
Ahok mengatakan mereka melakukan perjanjian konrak impor migas menjadi kontrak yang pendek tidak panjang. Hal ini menurutnya membebani neraca perdagangan. Padahal harusnya, sebagai konsumen besar Pertamina bisa memiliki harga tawar tinggi.
Menurut Ahok, harusnya Pertamina bisa menekan para importir untuk membuat kontrak jangka panjang dan harga murah. Selama ini, dia menilai Pertamina mengimpor migas dengan mahal dan menjual terlalu murah sehingga prinsip ekonomi tidak bisa berjalan.
"Saya bisa neken dong supplier pemasok saya bisa minta jangka panjang kontraknya, dan harga lebih murah. Kita selama ini beli yang mahal jual murah, nggak sesuai prinsip ekonomi, ini terbalik," ungkap Ahok.
Menurutnya mengawasi Pertamina tidak mudah, apalagi perusahaan pelat merah ini memiliki anak dan cucu usaha hingga ratusan jumlahnya.
Ahok juga bercerita, ada cucu perusahaan yang sempat membuat dia sedikit kesal. Dari kisahnya, cucu perusahaan itu diminta menjelaskan soal investasi kilang namun dijawab tak perlu izin Ahok untuk hal tersebut.
"Ketika dipanggil cucu perusahaan jawabnya enteng aja. Kenapa invest sekian kilang berapa puluh juta dolar, jawabnya enteng aja, kami nggak perlu izin Komut kok," cerita Ahok.
"Untung gue udah lulus Mako, kalau belum udah gue timpuk itu," pungkasnya.
Ahok menyebutkan dirinya mau menjadi komut demi membantu pemerintah untuk mengurangi defisit neraca berjalan Indonesia. Ia menyebut Pertamina memiliki pemasukan hingga sepertiga APBN, untuk itu harus diawasi dengan baik.
"Ya saya pikir untuk bantu kurangi defisit neraca berjalan kita, Pertamina ini revenuenya aja Rp 800 triliun, sepertiga APBN Indonesia. Jadi perusahaan Rp 800 triliun harus diawasi dengan baik, KPI-nya juga harus baik," sebut Ahok.
Ahok juga menyatakan indikator kinerja perusahaan sering tidak diperhatikan selama ini di Pertamina. Dia mengatakan Pertamina pasti untung, namun kalau dibanding perusahaan dengan kapasitas yang sama dari luar negeri Pertamina masih kalah.
Misalnya Petronas dari Malaysia, sudah bertengger di peringkat 150 pada perusahaan Fortune Global, sementara Pertamina cuma di posisi 175.
"KPI ini sering nggak diperhatikan, nggak ada kewajiban untung berapa, merem juga untung, persoalannya Petronas untung berapa, lu untung berapa. Kita masuk 175 Fortune Global, nah Petronas 150 bos. Kita harus bandingkan best practice yang setara dari negara lain," ungkap Ahok. (Dimas Satrio)
Foto: Istimewa



Comments