Tuai Reaksi Keras dari Suku Jawa, Ketum Pernusa Ingin Tengku Zul Ditindak Tegas
- MyCity News

- Jul 26, 2020
- 2 min read

Ketua Umum Perjuangan Rakyat Nusantara (Pernusa) KP Norman Hadinegoro meminta Polisi Republik Indonesia (Polri) menindak tegas ustadz Tengku Zulkarnain atas ceramahnya yang provokatif dan menyindir Suku Jawa dan Solo.
"Ceramah kali ini mendapat reaksi keras dari suku Jawa sebaiknya polisi reaktif dan tanggap terhadap orang ini yang mengaku ustadz. Polisi harus bertindak tanpa harus menunggu pengaduan dari masyarakat," kata Norman pada Minggu (26/7/2020).
Tengku Zulkarnain menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Pengembangan Masyarakat.
Terlepas jabatannya di MUI, Norman meragukan label ustadz pada Tengku Zul. Selama ini, Zulkarnain juga dikenal sebagai kelompok HTI dan khilafah.
"Itu SARA, kebencian terhadap salah satu suku. Saya meragukan apakah Zulkarnain ini ustadz asli apa palsu. Dalam suatu videonya juga mengatakan bahwa Nabi Adam diturunkan ke Aceh. Itupun saya tanda tanya, jangan-jangan berselubung ustadz tapi ingin merusak umat Islam," ungkap Norman.
Barangkali Tengku Zul hanya ingin berdakwah dengan humor. Namun, Norman menyayangkan isi dakwah itu menyinggung adat Jawa. Bagi Norman, dakwah itu mengandung diskriminasi budaya.
"Maksud Ustadz Zulkarnain berceramah gaya humor, tapi tidak tepat karena memancing reaksi suku lain. Jika ada pembiaran kita akan tersekat oleh kesukuan yang sempit. Toleransi antar suku harus terpelihara karena Indonesia sebuah negara yang beraneka ragam dari suku, agama dan bahasa daerah. Kalau ini menyangkut SARA, polisi berkewajiban memanggil Zulkarnain," ungkap Norman.
Lebih jauh, Norman berharap Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mempertanyakan maksud dari ceramah Tengku Zul.
"Persoalan Zulkarnain jangan dianggap enteng. Pemerintah berkewajiban memelihara kerukunan. Jika ini ranah Kementerian Agama dan MUI, maka mereka berkewajiban memanggil ustadz ini. Pernusa berharap agar pemerintah pro aktif menanggapi kasus SARA. Jangan sampai dia terancam tidak bisa menginjakkan kaki di Pulau Jawa," tegas Norman.
Di samping itu, Norman menganggap Tengku Zul sebagai anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan khalifah. Norman memandang HTI dan khilafah selalu membuat masyarakat resah.
"Zulkarnain dikenal kelompok HTI dan khilafah. Mereka selalu berupaya membuat keresahan masyarakat. Kelompok ini terkoordinir dan ada penyandang dana dibelakang mereka," ujar Norman.
Menurut Norman, jika polisi tak segera menangkap Zulkarnain, bisa jadi dia tak bisa menginjakkan kaki di Pulau Jawa selamanya.
"Jika polisi tidak menciduk Zulkarnain maka tidak menutup kemungkinan dia tidak boleh datang atau menginjak Pulau Jawa. Dulu Zulkarnain pernah membuat ulah di Kalimantan, terus diusir rakyat Kalimantan dan tidak boleh menginjak tanah Kalimantan," kata Norman.
"Dulu menghina suku Kalimantan sekarang menghina Suku Jawa, jangan menginjak Pulau Jawa!" imbuh Norman. (Al-Hanaan)
Foto: Dokumen Norman Hadinegoro



Comments