Sisa 1,5 Bulan Untuk Pulih, Apakah Ekonomi RI Bakal Resesi?
- MyCity News

- Aug 29, 2020
- 2 min read

Pandemi Covid-19 menghantam berbagai sektor terutama ekonomi dan kesehatan. Tak heran banyak negara jatuh ke lubang resesi karena pertumbuhan ekonomi negatif sebesar -5,32% di kuartal II (Q2) tahun 2020.
Pertumbuhan negatif itu merupakan catatan terendah dalam 10 tahun terakhir yang selalu tumbuh positif sebesar 5%. Untuk menghindari resesi, pertumbuhan ekonomi di Q3 harus positif.
Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengatakan Indonesia punya waktu 1,5 bulan di Q3 dan semua instrumen kebijakan akan dikerahkan untuk mendorong perekonomian mencapai 0%.
"Masih ada 1,5 bulan dan pemerintah akan gunakan semua instrumen untuk terus menjaga pemulihan atau pembalikan ekonomi ke arah positif," kata Sri Mulyani, Jumat (28/8/2020).
Meski terpukul keras, perekonomian Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara lain. Kontraksi Indonesia masih satu digit (single digit), sedangkan negara lain sudah dua digit (double digit).
Sri Mulyani menyebut Singapura dengan kontraksi -13%, Malaysia -17%, Muang Thai -12%, dan Spanyol -22% di Q2 2020.
Artinya, semua negara di dunia menghadapi tekanan terutama di sektor konsumsi. Pandemi Covid-19 memaksa orang untuk tinggal di rumah untuk mencegah penyebaran penyakit.
Mengingat kondisi Indonesia yang tak separah negara lain, Sri Mulyani menekankan pemerintah untuk tidak mudah menyerah dan melakukan berbagai upaya untuk mendorong perekonomian di sisa waktu Q3 2020.
Upaya itu berupa bantuan sosial (bansos) untuk meningkatkan konsumsi karena konsumsi merupakan andalan utama untuk menetralkan perekonomian atau tumbuh 0%.
"Kita lihat Indonesia masih cukup resilient dibandingkan negara lain yang pasti kontraksinya double digit. Artinya dalam hal ini respon pemerintah untuk mendorong terutama di kelompok yang bawah yaitu kelompok atau kita sebutnya 40% terbawah, kita sudah tambahkan banyak sekali bantuan," terang Sri Mulyani.
"Sehingga penurunan konsumsi diharapkan pada level itu tidak menurun sangat tajam karena memang mereka dalam situasi yang sangat rapuh," lanjut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia.
Dari sisi investasi, pemerintah tak hanya melihat sisi belanja pemerintah tetapi juga sisi belanja swasta. Investasi swasta yang berhenti karena PSBB kembali dilakukan secara bertahap.
"Ini artinya kita keroyokan gitu. Nah kita dengan langkah-langkah itu berharap tadi daya tahan ekonomi Indonesia itu cukup tetap terjaga walaupun tekanan sekarang ini masih berlangsung terus karena covid kan belum hilang," tandas Sri. (Al-Hanaan)
Foto: Istimewa



Comments