top of page

Sijunjung dan Klaten Ciptakan Tiga Varietas Padi Khas Daerah Bersama BATAN

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Jul 24, 2020
  • 2 min read


Padi adalah tanaman penghasil beras. Sebagai makanan pokok, beras merupakan bahan pangan yang mempunyai prospek cerah untuk dikembangkan.


Tak heran perbaikan varietas padi lokal menjadi fokus kegiatan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Untuk itu, BATAN dan Pemda Sijunjung bekerja sama pada 2015 untuk menciptakan varietas padi dengan masa tanam dan batang pendek namun tetap beraroma sedap.



Dalam seminar daring yang bertajuk "Perbaikan Varietas Padi Lokal dengan Teknik Mutasi Radiasi" pada Jumat (17/7/2020), Hendra berujar padi lokal Lampai Kuniang disukai masyarakat setempat karena tekstur nasi yang pera. Namun, berumur tanam panjang dan berbatang tinggi sehingga mudah rebah.


"Perbaikan kedua kelemahan ini kami lakukan bersama dengan BATAN melalui pemuliaan mutasi," kata Hendra, Kepala Seksi Pemerintahan dan Kependudukan Kec. IV Nagari, Kabupaten Sijunjung.


Hendra menjelaskan perbaikan varietas bertujuan mendapatkan Lampai Kuniang yang cepat berbuah, tahan rebah, dan tetap sedap khas Lampai Kuniang.


Varietas baru Lampai Kuniang berhasil dengan terbitnya Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor 849/HK.540/C/06/2020 pada tanggal 17 Juni 2020 tentang pelepasan calon varietas padi sawah LK-05 sebagai varietas unggul dengan nama Lampai Sirandah.


Lampai Sirandah berpotensi menghasilkan 9,77 ton per hektar gabah kering giling dengan tekstur beras pera (berderai) dan aroma wangi.


"Umumnya padi lokal berumur tanam hingga 120 hari, kemudian kita lakukan perbaikan dengan mutasi radiasi. Seperti di Kabupaten Sijunjung (Lampai Sirandah: Red) dapat diperpendek umurnya hingga umur 105 hari," ujar Sobrizal, Peneliti Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN.



Selain bekerja sama deengan Pemda Sijunjung, BATAN juga bekerja sama dengan Kabupaten Klaten-Jawa Tengah, Kabupaten Musi Rawas-Sumatera Selatan, Kabupaten Landak-Kalimantan Barat, dan Kabupaten Kota Baru-Kalimantan Selatan.


Untuk perbaikan varietas padi lokal Rojolele, BATAN sudah bekerja sama dengan kabupaten Klaten sejak 2013. Hasil mutasi radiasi padi lokal Rojolele bernama Rojolele Srinar dan Rojolele Srinuk.


"Rojolele Srinar dan Rojolele Srinuk telah dilepas oleh Kementerian Pertanian pada tahun 2019 lalu. Saat ini kami sedang melakukan upaya hilirisasi kedua varietas tersebut," ungkap Umar Said, Kepala Bidang Litbang Dalev Bappeda Kabupaten Klaten.


Lebih lanjut, Umar Said mengatakan hilirisasi varietas padi dilakukan dengan penanaman serentak di seluruh Klaten.


"Selain itu, kami sedang merencanakan penerbitan regulasi untuk mengarahkan Aparatur Sipil Negara (ASN), staf-staf non ASN, dan karyawan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk wajib membeli dan mengonsumsi beras Rojolele Srinar dan Rojolele Srinuk," lanjut Umar.



Sebagai aksi nyata lumbung pangan Jawa Tengah, pemerintah Kabupaten Klaten membangun pasar beras. Pasar beras ini direncanakan menjadi pasar terpusat untuk menjamin sisi permintaan bagi petani agar volume produksi meningkat. Meski demikian, Umar mengatakan pengembangan padi Rojolele Srinar dan Rojolele Srinuk hanya boleh dilakukan di Klaten.


"Kedua varietas ini akan menjadi varietas padi premium, dan kami fokus mengembangkan mulai dari sisi hulu hingga hilir, namun yang kami ekspansi keluar Klaten hanya berasnya saja, sedangkan pengembangan padinya tetap di Klaten untuk mempertahankan ekslusivitas dan ciri khas dari padi lokal, karena memang pengembangan kedua padi ini untuk lokal saja," terang Umar. (Al-Hanaan)



Foto: langgam



Comments


bottom of page