top of page

Rantai Pasokan Global di Cina yang Anjlok Gara-gara Covid-19 Jadi Kesempatan Emas Indonesia

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • May 29, 2020
  • 2 min read


Pandemi Covid-19 berimbas kepada terganggunya rantai pasokan global di Cina. Hal itu membuat beberapa negara seperti Jepang dan Amerika Serikat (AS) memutus ketergantungan rantai pasokan global industri mereka dari Cina.


Ya, Cina merupakan pusat rantai pasokan global dalam dua dekade terakhir. Namun, pandemi Covid-19 menghancurkan perekonomian Negeri Tirai Bambu itu.


Hal itu membuat Jepang mengeluarkan paket stimulus senilai 2,2 miliar dolar AS untuk membantu industri mereka mengalihkan produksi dari Cina.Anggaran tersebut termasuk 220 miliar yen untuk perusahaan yang mengalihkan produksi kembali ke Jepang dan 23,5 miliar yen untuk mereka yang ingin memindahkan produksi ke negara lain.


Sama halnya dengan Pemerintah Amerika Serikat yang dikabarkan tengah menyiapkan pemberian subsidi dan insentif pajak bagi perusahaan yang mau memindahkan pabriknya dari Cina ke negara lain.


Hal ini justru bisa menjadi kesempatan emas bagi Indonesia yang membutuhkan investasi untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dengan menggaet investor.


"Indonesia sebetulnya memiliki peluang untuk menarik investasi yang akan keluar dari China ke tanah air. Salah satu daya tarik investasi Indonesia adalah pasar yang besar," ujar Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance, Tauhid Ahmad.


"Investor luar negeri juga menganggap Indonesia sebagai negara dengan potensi pertumbuhan pasar yang besar," dia menambahkan.


Namun, untuk menjadi tujuan relokasi dari China, Indonesia harus bersaing dengan negara-negara lain seperti India, Thailand, Vietnam dan Filipina. Tahun lalu, setidaknya sebanyak 33 perusahaan hengkang dan merelokasi pabriknya dari China. Namun, alih-alih merelokasi ke Indonesia, perusahaan-perusahaan tersebut memindahkan basis produksinya ke Vietnam dan Thailand, salah satunya karena persoalan harga lahan.


Menurut Tauhid, selain harga lahan ada beberapa faktor yang menjadi kekhawatiran investor asing saat ingin berinvestasi di Indonesia. Pertama, kenaikan upah yang terlalu tinggi. Setiap tahun kenaikan upah tenaga kerja di Indonesia mencapai 7 persen - 8 persen. Sementara kenaikan upah di negara-negara seperti Vietnam maupun India hanya berkisar 4 persen - 5 persen.


Kedua, infrastruktur untuk jaringan logistik yang masih kurang. Ketiga, investor asing enggan melirik Indonesia yang terkenal dengan birokrasi yang berlapis, salah satunya urusan perpajakan.


Sejumlah perubahan telah digagas Pemerintah dengan memberikan wewenang yang lebih luas kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebagai upaya untuk memangkas jalur birokrasi. Oleh karenanya, Pemerintah harus bisa menjawab kekhawatiran investor.


Cara Menarik Investasi Asing


Cara terpenting untuk menarik peluang investasi asing adalah memberikan kepastian hukum bagi pengusaha, yakni dengan meningkatkan produktivitas tenaga kerja lokal, mempercepat pembangunan infrastruktur pendukung, memberikan fasilitas yang memudahkan investasi, dan mengakselerasi reformasi birokrasi dan regulasi terkait penanaman modal.


Selain itu, demi mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi destinasi investasi, pemerintah wajib meningkatkan kebijakan pro investasi untuk mendorong masuknya permodalan asing yang diharapkan dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di Indonesia.


Insentif yang tepat untuk industri manufaktur juga wajib menjadi bahan pertimbangan, bukan hanya sekadar Tax Holiday. Industri manufaktur umumnya bersifat padat modal dan menyerap tenaga kerja, dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa mencapai titik break-even.


Selayaknya pemerintah bergegas mengambil langkah untuk meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia, sebelum Indonesia kehilangan kesempatan lagi karena investor kembali memilih Vietnam dan Thailand. (Arie Nugroho)

Comments


bottom of page