top of page

Profesor Sosiologi Sarankan Pendekatan Gaya Hidup Untuk Adaptasi Kebiasaan Baru

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Jul 24, 2020
  • 2 min read


Pandemi Covid-19 mengubah banyak sendi kehidupan. Ekonomi, bisnis, kesehatan bahkan pergaulan turut berubah menyesuaikan kondisi baru. Kita masih dalam situasi pandemi Covid-19 dan kehidupan harus terus berjalan. Untuk itu, kita harus bisa beradaptasi dengan kebiasaan baru.


Kebiasaan memakai masker di tempat umum, mencuci tangan, dan menjaga jarak sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu menjadi norma dan budaya baru di masyarakat.

Sosiolog Universitas Airlangga Prof. Dr. Bagong Suyanto mengatakan kebiasaan baru itu harus berdasarkan kesadaran masyarakat sendiri, bukan pemaksaan.



"Pemerintah mengharapkan kebiasaan baru itu kan bukan dilakukan karena terpaksa. Tapi, dilakukan karena kesadaran, rasa tanggung jawab masyarakat sendiri," kata Prof. Bagong saat dialog daring di Media Center Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Jakarta, Jumat (24/7/2020).


Lebih jauh, Prof. Bagong mengatakan pemerintah membantu masyarakat untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru melalui aturan hukum yang berlaku dan imbauan persuasif.


"Jadi yang kita pahami mereka juga korban itu, korban COVID-19, tidak mungkin kita meminta mereka mengembangkan budaya baru, cara hidup baru, perilaku yang baru, hanya dengan ancaman sanksi," terang Prof. Bagong.


Beberapa waktu lalu, pemerintah mengajak para selebriti, seperti komunitas masyarakat, tokoh publik, pemuka agama, dan influencer. Pendekatan ini disesuaikan dengan latar belakang masyarakat agar sosialisasi mudah diterima masyarakat.


"Subjek itu tidak mungkin bisa meratakan. Jadi, harus dipahami. Subjek itu partikularistik. Jadi, dia punya masing-masing komunitas itu punya subkultur yang berbeda, tingkat pendidikan yang berbeda, idiom-idiom percakapan yang berbeda, ya" tegas Prof. Bagong.



Di sisi lain, budayawan Teater Koma, Sari Madjid mengungkapkan pertunjukan seni juga menerapkan kebiasaan baru.


"Memang ada beberapa versi. Maksudnya gini, kaya misalnya di tari, mereka juga sudah mulai membuat kostum dengan ada face shield tapi, itu menjadi bagian dari kostum. Ada juga yang masker menjadi bagian dari kostum," jelas Sari.


Pertunjukan seni membuat aturan tentang penggunaan properti saat pertunjukan di masa pandemi dikoordinasikan dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Aturan berupa penggunaan alat rias dan kostum bagi para aktor.


"Sebetulnya begini, kemarin juga kita diminta untuk bersama-sama, kaya Kemenparekraf bikin aturan. Karena kan, prosedurnya banyak nih, kalau mau pertunjukan kita. Belum make-up, alat make-up-nya harus sendiri-sendiri, gitu kan. Terus kostum, kostum juga tidak boleh gantian. Jadi, kalau kostum ya memang masing-masing," kata Sari.



Seni pertunjukan perlahan sudah mengadaptasi kebiasaan baru dan kostum baru. Ke depannya, ini akan menjadi gaya hidup dan budaya baru agar tetap produktif berkarya.


Sebagai pemungkas, Prof. Bagong dan Sari sepakat bahwa pembentukan kebiasaan baru menjadi budaya diperlukan pendekatan yang berbasis gaya hidup. Pemberian hadiah dan hukuman efektif untuk membudayakan kebiasaan baru pada masyarakat. (Al-Hanaan)


Foto: beritagar



Comments


bottom of page