top of page

Mentan Hidupkan Korporasi Petani Untuk Perkuat Pertanian di Masa Pandemi Covid-19

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Aug 30, 2020
  • 2 min read


Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo berupaya memperkuat sektor pertanian di masa pandemi Covid-19. Pemenuhan pangan seyogianya tak bergantung pada impor luar negeri mengingat situasi ekonomi sedang di ambang krisis.


Untuk itu, Mentan melakukan terobosan yaitu pengembangan pertanian berbasis kawasan korporasi petani. Terobosan ini menggunakan dana kredit usaha rakyat (KUR) untuk kemajuan, modernitas, dan kemandirian petani.


Demikian pernyataan Mentan dalam kegiatan tanam sekaligus panen integrasi kedelai-kelapa dan panen jagung di Desa Tontalete, Kecamatan Kema, Kabupaten Minahasa Utara, Minggu (30/8/2020).


"Pertanian adalah sesuatu yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik dan bertahan dalam kondisi apapun. Kenapa? Karena adanya pandemi Covid-19, negara seperti Amerika Serikat dan Jepang kembali mengaktifkan sektor pertanian," kata Syahrul.


"Di tengah Covid-19 saat ini, aktivitas lainnya hampir terhenti, kecuali pertanian. Oleh karena itu pertanian itu sesuatu yang pasti, pertanian jawaban dari pelemahan yang ada. BPS mencatat pada saat sektor lain mengalami penurunan, ekspor pertanian bulan Juli 2020 justru meningkat 24,1 persen dibandingkan bulan Juni," lanjut Syahrul, dikutip dari laman resmi Kementan.


Mentan mengatakan bahwa komoditas, seperti padi, kedelai, jagung, dan kelapa harus dikelola dengan model korporasi petani. Melalui korporasi petani, petani akan memperoleh layanan saran produksi dan modal, perlindungan asuransi, kepastian pasar, dan jaminan harga. Pada gilirannya, korporasi petani akan meningkatkan kesejahteraan petani.


"Untuk itu kami mengharapkan kepada provinsi dan kabupaten/kota melakukan gerakan di lapangan dan menggerakkan Kostratani di Kecamatan sebagai ujung tombaknya. Komitmen yang kuat semua pihak yang terlibat di masing-masing tingkatan akan menjadi indikator keberhasilan pencapaian swasembada pangan nasional," tutur Syahrul.



"Pertanian kuat, kita tidak ada bicara impor. Dari Sulawesi Utara ini kita siapkan pangan untuk negara kita. Jangan biarkan impor masuk. Lahan pertanian kita sangat subur. Kita harus kelola dengan optimal," imbuh Syahrul.


Acara ini juga diisi dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) Korporasi Petani Jagung dan Kedelai. MoU ini melibatkan BRI, Bank Mandiri, Pupuk Kaltim, Jasindo, PT PPI, PT MAGP, dan lainnya untuk bekerja sama mengembangkan korporasi jagung dan korporasi kedelai.



Pada kesempatan itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Suwandi menjelaskan pengembangan korporasi itu didukung IT pertanian, yakni aplikasi Agri-solution.


"Kementan mengalokasikan upaya pengembangan kedelai nasional seluas 120.000 ha di antaranya untuk Provinsi Sulut 6.153 ha dan tahun 2021 akan berlipat menjadi model korporasi seluas 30.000 hektar yang juga didukung oleh investor," ungkap Suwandi.


Senada dengan Mentan, Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Kasdi Subagyono menegaskan komoditas perkebunan juga mengadopsi model kawasan korporasi petani. Dengan begini, peningkatan produksi dan ketersediaan pasar terjamin. Tentu kesejahteraan petani pun meningkat.



"Tahun ini khususnya untuk Minahasa Utara sekitar 500 hektare kawasan komoditas kelapa dikembangkan bertahap. Pengembangan kawasan tanaman pala sebesar 1.000 hektare dan cengkeh sebesar 200 hektare. Selain bibit, Kementan pun menyediakan bantuan berupa alat pascapanen dan pengendalian hama terpadu," tegas Kasdi.


Sebagai informasi, bantuan pengembangan pertanian 2020 di Sulut sebesar Rp 136,86 miliar. Bantuan di antaranya pengembangan jagung sebesar 98.132 hektar, kedelai 6.153 hektar, benih unggul kelapa genjah 25.000 batang, kelapa dalam 477.600 batang, pala 431.250 batang, cengkeh 85.800 batang, dan pembangunan kebun induk tanaman pala sebesar dua hektare di Minahasa Utara. (Al-Hanaan)


Foto: Kementan


Comments


bottom of page