top of page

Menristek: Sumber Daya Antariksa Berpotensi Jadi Tulang Punggung Perekonomian

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Jul 17, 2020
  • 3 min read

Updated: Jul 20, 2020



Pada Rabu (15/7/2020), Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) - LAPAN menggelar Seminar Nasional Sains Atmosfer (SNSA) 2020 bertema "Sinergi Nasional dalam Sains dan Teknologi Atmosfer serta Aplikasinya untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan."


Seminar ini didukung oleh Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo), Pusat Unggulan Iptek (PUI), dan Asosiasi Ahli Atmosfer Indonesia. Topik yang dibahas adalah Dinamika, Fisika dan Kimia Atmosfer, Perubahan Iklim dan Ketahanan Pangan, Kebencanaan Hidrometeorologi, Atmosfer Maritim, Basis Data dan Teknologi Pengamatan Atmosfer, dan Lingkungan Atmosfer.



Dalam seminar itu, Kepala PSTA-LAPAN Didi Setiadi menekankan pentingnya riset dan inovasi di bidang sains dan teknologi atmosfer untuk mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.


Atmosfer merupakan salah satu lapisan tipis gas yang menyelimuti bumi dan mempengaruhi berbagai kegiatan seperti sektor pembangunan, pertanian, energi, transportasi, lingkungan hidup, kesehatan, kebencanaan, dan sebagainya.


Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (MenristekBRIN), Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro menjadi pembicara kunci di seminar itu. Ia memaparkan potensi SDA di angkasa yang belum dieksplorasi untuk kesejahteraan bangsa.


"Tentunya kita tahu di udara sampai antariksa, sebenarnya itu adalah bagian sumber daya alam kita yang seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal. Tentunya tidak hanya bagi kesejahteraan masyarakat tapi juga dapat menjadi tulang punggung daya saing perekonomian," Bambang menjelaskan.


"Indonesia merupakan negara maritim di khatulistiwa yang dikenal dengan wilayah dinamika atmosfer yang paling kompleks di dunia. Hal ini karena wilayah ini menerima energi radiasi yang sangat besar serta mengandung uap air sehingga bersifat turbulensi, disipasi, proses non-adiabatik dan proses non-liniear sehingga wilayah ini lebih sulit diprediksi dibandingkan dengan wilayah di lintang tinggi. Dinamika atmosfer di wilayah ini juga sangat unik karena diatur oleh kesetimbangan antara gaya gravitasi dan bouyancy sehingga banyak didominasi oleh proses konvektif dan gelombang atmosfer yang saling berinteraksi," terang Didi Setiadi.



Senada dengan Didi, Kepala LAPAN juga mengatakan prakiraan aktivitas cuaca dan iklim di Indonesia adalah tantangan sekaligus peluang.


"Pemodelan untuk membuat prakiraan aktivitas cuaca dan iklim di wilayah Indonesia saat ini menjadi suatu tantangan yang sangat besar bagi para peneliti atmosfer dan ini membuka peluang untuk sinergi secara nasional dan internasional. Dinamika atmosfer yang sangat kompleks yang terkait dengan berbagai parameter atmosfer, berbagai proses fisis terkait dengan distribusi panas dan berbagai parameter yang lain menjadikan wilayah Indonesia menjadi wilayah yang sangat menarik untuk diteliti," ujar Kepala LAPAN, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin yang membuka acara SNSA 2020.


Seminar itu dihadiri pula oleh lima orang pembicara yang kompeten di bidangnya.


Pertama, Sekretaris Utama LAPAN, Prof. Dr. Erna Sari Adiningsih memaparkan tentang Sinergi Layanan LAPAN Berbasis Teknologi Sains dan Penerbangan dan Antariksa untuk Pembangunan Nasional.


Kedua, Kepala BMKG, Prof. Dwikorita Karnawati memaparkan tentang Sinergi Penelitian dan Pengembangan dalam Mendukung Penyediaan Informasi Cuaca dan Iklim yang Akurat di Indonesia.



Ketiga, Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek, dan Kebudayaan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Dr. Hadiat memaparkan tentang Sinergi dan Prioritas Riset Nasional terkait Atmosfer di dalam Rencana Pembangunan Nasional 2020-2024.


Keempat, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Dr. Raditya Jati memaparkan tentang Sinergi Riset Atmosfer untuk Mendukung Penanggulangan Bencana Hidrometeorologis di Indonesia.


Kelima, Ketua Asosiasi Ahli Atmosfer Indonesia (A3I), Dr. Widada Sulistya memaparkan tentang Asosiasi Ahli Atmosfer Indonesia (A3I) dalam Membangun Sinergi Nasional dalam Sains dan Teknologi Atmosfer.



Sustainable Development Goas (SDGs) nomor 11 berbunyi "Make cities and human settlements inclusive, safe, resilient and sustainable." Tindakan untuk mengatasi perubahan iklim dilakukan melalui mitigasi dan perubahan iklim yang harus didukung oleh sains dan teknologi yang memadai, termasuk sains dan teknologi atmosfer.


Pengembangan sains dapat optimal jika didukung oleh perkembangan teknologi yang andal. Sebaliknya, teknologi juga membutuhkan sains untuk berkembang. Untuk itu, sinergisme antara teknologi dan kinerja yang antara instansi diperlukan untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan. (Al-Hanaan)



Foto: industry.co.id

Comments


bottom of page