top of page

Lindungi Kesehatan Jiwa di Masa Pandemi Covid-19 dengan CERDIK CERIA

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Jul 20, 2020
  • 3 min read


Pandemi Covid-19 membuat masyarakat harus melakukan pembatasan sosial. Bahkan beberapa wilayah harus melakukan lockdown. Manusia adalah makhluk sosial. Ketiadaan kontak sosial bisa memepengaruhi kesehatan mental. Terlebih bila seseorang mempunyai kepribadian ekstrovert yang baru bersemangat setelah bergaul.


Pemerhati Kesehatan Jiwa Anak UNICEF, Ali Aulia Ramly mengatakan salah satu dampak pandemi pada anak dan remaja adalah pembatasan sosial. Pembatasan sosial mencemaskan anak dan remaja karena banyaknya informasi yang bertebaran. Selain itu, pembatasan sosial membuat anak dan remaja mudah bosan.



"Tentu saja kebosanan terjadi ketika mereka harus berada di rumah dengan waktu yang sangat lama. Tidak bisa bertemu teman-temannya ini merupakan sejumlah dampak yang wajar dan banyak terjadi pada anak.kita harap begitu banyak anak akan bisa pulih dan melihat kembali bagaimana mereka tidak terganggu situasinya dalam keadaan ini," kata Aulia di Media Center Center Gugus Tugas Nasional pada Senin (20/7/2020).


Tak hanya Aulia yang berargumen demikian. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, Dr.dr.Fidiansjah, SpKJ., MPH memaparkan data dari Wahana Visi Indonesia tentang Studi Penilaian Cepat Dampak Covid-19 dan Pengaruhnya Terhadap Anak Indonesia.



Data tersebut menunjukkan ketidakmerataan akses pendidikan daring dan luring. Sebanyak 68 persen anak dapat mengakses fasilitas pendukung selama pembelajaran. Sedangkan, 32 persen anak sama sekali tidak mendapat program belajar dalam bentuk apapun.


"Dampaknya anak harus mempunyai sistem belajar sendiri dan dampaknya 37 persen anak tidak bisa mengatur waktu belajar, lalu 30 persen anak kesulitan memahami pelajaran, bahkan 21 persen anak tidak memahami instruksi guru," terang Fidiansjah.


Tak hanya urusan pendidikan dan kehidupan sosial. Pandemi turut mempengaruhi penghasilan orang tua. Orang tua jadi mudah emosi karena masalah keuangan. Tak ayal, anak-anak pun jadi sasaran frustrasi orang tua.


Sebanyak 62 persen anak mengalami kekerasan verbal oleh orang tua mereka selama di rumah. Rumah tak selalu menjadi tempat aman bagi anak.


Sejalan dengan data yang dipaparkan Fidiansyah, Aulia mengungkapkan bahwa kekerasan pada anak itu memang sudah terjadi di Indonesia bahkan sebelum adanya pademi COVID-19.


"Pada dasarnya jumlah kejadian kekerasan pada anak di Indonesia memang tinggi dan itu mengkhawatirkan," ungkap Aulia.



Aulia memberikan contoh nyata kekerasan emosional pada anak. Merendahkan kemampuan anak dalam belajar dan menerapkan pola pendisiplinan anak yang tak tepat merupakan kekerasan.


Untuk itu, pemerintah berperan dalam membantu orang tua dan anak untuk memahami apakah mereka terdampak pandemi secara psikologis.


Gejala-gejala umum yang dapat diamati adalah menurunnya semangat untuk menjalankan aktivitas, mudah marah, dan cepat kehilangan konsentrasi itu memang normal namun tetap harus diperhatikan jika terjadi secara berkepanjangan.


"Jangan lupa bahwa ketika kita ingin mendukung anak dan remaja, kita juga harus memperhatikan kesehatan jiwa orang tuanya, membantu mereka memahami diri sendiri, bisa memilih cara menangani, dan cara untuk mendapat pertolongan," Aulia menandaskan.



Sebagai kepanjangan tangan pemerintah, Kementerian Kesehatan membuat regulasi yang menitikberatkan arah dari setiap kebijakan pada terwujudnya masyarakat yang peduli pada kesehatan jiwa. Kemenkes juga berkolaborasi dengan UNICEF dengan cara menjaga imunitas.


"Imunitas penting dalam konteks covid, jangan sampai tadi kesehatan jiwa dia turun, kemudian mengganggu imunitas yang dibutuhkan di dalam Covid ini," Fidiansjah menuturkan.

Untuk itu, Fidiansjah menggaungkan slogan "Atasi Covid dengan Cerdik Ceria."


C- Cek kondisi kesehatan secara berkala

E- Enyahkan asap rokok

R- Rajin aktivitas fisik

D- Diet sehat dengan kalori

I- Istirahat yang cukup

K- Kendalikan stress


C- Cerdas intelektual emosional dan spiritual

E- Empati dalam berkomunikasi efektif

R- Rajin beribadah sesuai agama dan keyakinan

I- Interaksi yang bermanfaat bagi kehidupan

A- Asah, Asih, dan Asuh tumbuh kembang dalam keluarga dan masyarakat


"Jaga kesehatan fisik dan jiwa untuk kelola stress, berobat dan konsultasi ke rumah sakit jika mengalami gejala penyakit apapun, dan bila membutuhkan dukungan kesehatan fisik dan jiwa hubungi Call Center yang sudah tersedia," Fidiansjah memungkasi. (Al-Hanaan)



Foto: Dume Sinaga - KOMBEN BNPB

Comments


bottom of page