top of page

Lakukan Ini Untuk Jaga Kesehatan Mental Selama Pandemi

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • May 15, 2020
  • 2 min read


Virus Corona tak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Selama pandemi Corona semakin meluas, kasus kesehatan mental semakin meningkat. Pemicunya adalah kecemasan, pengangguran, kematian, isolasi, dan ketidakpastian.


Melansir VOAnews.com (10/5/2020), hampir setengah rakyat di AS mengatakan pandemi virus Corona mempengaruhi kesehatan mental mereka. Kaiser Family Foundation melakukan jajak pendapat pada 25-30 Maret dan dipublikasikan dalam situs kff.org. 45% dari 1.226 warga Amerika merasa krisis menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan mental dan 19% mengatakan dampak tersebut luar biasa. Jajak pendapat itu mempunyai batas galat 3%.


“Angka ini merepresentasikan pucuk gunung es,” kata Paul Gionfriddo, presiden dan CEO Mental Health America (MHA).


“Banyak sekali orang mengalami masalah kesehatan mental yang serius karena pandemi dan kebanyakan dari mereka anak muda,” tambahnya.


Hasil tes MHA menunjukkan orang yang mengalami kecemasan meningkat lebih dari 70% dari Januari hingga April dan orang yang mengalami depresi meningkat hingga 64%. 7.140 orang yang menghubungi MHA dilaporkan mempunyai keinginan bunuh diri atau melukai diri sendiri. Jumlah ini meningkat 42% selama pandemi.


Dalam tiga bulan terakhir sejak pandemi, National Alliance on Mental Illness (NAMI) melaporkan kebutuhan pendampingan kesehatan mental meningkat sejak 1 Maret – 23 April. Peningkatan ini 41% lebih besar dibandingkan tahun 2019 lalu.


“Panggilan HelpLine mengatakan kecemasan yang disebabkan Covid-19 paling banyak mempengaruhi kesehatan fisik dan emosional,” ujar Dawn Brown, direktur community engagement di NAMI.


“Beberapa penelepon mengalami serangan panik dan relawan kami membantu mereka mengatasinya hingga mereka bisa berbicara mengenai masalah mereka.”


Sebanyak 75% penelepon membutuhkan dukungan dan kepastian selama pandemi. Depresi merupakan dua kondisi yang paling sering dilaporkan dan peningkatan depresei disebabkan oleh isolasi dan rasa tidak berdaya.


Ini bukan yang pertama kalinya. Krisis finansial global pada 2008 juga meningkatkan risiko kesehatan mental. Selama Resesi Hebat (Great Recession), presentase depresi, kecemasan, dan kecanduan alkohol meningkat. Pada tahun 2008, lebih dari 46.000 orang mati bunuh diri karena pengangguran dan ketimpangan pendapatan.


McKinsey & Company melakukan survei pada 27-29 Maret dengan batas galat 3%. Dari 1.062 orang Amerika, 35% responden mengatakan mereka mengalami depresi dan kecemasan dan 42% orang yang mengalami PHK atau pengurangan gaji pun mengalami hal serupa.

“Untuk meringankan rasa isolasi, terimalah keadaaan dengan lapang dada. Jangan menghakimi diri sendiri. Sadari bahwa jutaan orang di dunia yang mengalami hal serupa. Ini pasti akan berakhir,” ujar Gots, psikolog yang melakukan pengobatan jarak jauh (telemedicine).


Gots juga mengatakan pengobatan jarak jauh memberikan dampak luar biasa bagi kesehatan mental selama beberapa bulan terakhir.


Centers for Disease Control and Prevention dalam situsnya cdc.gov menyarankan lakukan ini untuk jaga kesehatan mental selama pandemi:


1. Lakukan teknik relaksasi napas dalam

2. Kurang bermedia sosial

3. Batasi berita dan tontonan sadis

4. Lakukan hobi atau hal baru yang menyenangkan

5. Makan makanan sehat

6. Olahraga teratur

7. Tidur cukup

8. Hindari konsumsi alkohol dan obat-obatan

9. Lakukan rutinitas seperti biasa


Jika kondisi Anda lebih stabil, dukunglah sesama baik secara moril maupun materil. Merawat dan menyayangi diri sendiri adalah salah satu cara mengatasi kesepian dan menjaga kesehatan mental. Jika kondisi tak membaik, jangan ragu hubungi psikolog atau psikiater. (Al-Hanaan)


Foto oleh Daniel Rechedari Pexels

Comments


bottom of page