top of page

Ketua Pusat Bahasa Isyarat Indonesia Minta Layanan Bahasa Isyarat Tak Hanya di Masa Pandemi

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Aug 11, 2020
  • 2 min read


Seluruh lapisan masyarakat dapat mengakses berbagai informasi terkait bencana baik itu bencana alam maupun wabah penyakit. Sayangnya, kemudahan ini tak berlaku bagi penyandang disabilitas, seperti penyandang tuli.


Ketimpangan akses informasi sejak lama dialami oleh penyandang tuli. Selaku Ketua Pusat Bahasa Isyarat Indonesia, Laura Lesmana Wijaya mengatakan sejak dulu penyandang tuli tidak pernah mendapatkan informasi yang cukup ketika terjadi bencana alam di Indonesia.

Baru ketika pandemi Covid-19, pemerintah mulai sadar akan pentingnya pemenuhan informasi terhadap penyandang tuli.

"Saya berpikir sebenarnya kendala yang dihadapi orang dengar dan tuli itu sama, yang membedakan adalah masalah pada pemberian akses komunikasi itu sendiri," kata Laura, dikutip dari laman BNPB, Selasa (11/8/2020).


Laura memandang masyarakat perlu mempelajari bahasa isyarat agar penyandang tuli mendapat informasi memadai. Harapannya, penyediaan layanan juru bahasa isyarat tidak hanya diberikan di masa pandemi COVID-19, tetapi terus berlanjut ke depannya.


Saat pemberian bantuan sosial, sebagian penyandang tuli mendaftarkan dirinya ke Kementerian Sosial dan mendapatkan bantuan tersebut. Namun sebagian lagi tidak memberikan data yang lengkap, sehingga bantuan tidak dapat diberikan.


"Sebelum mendaftar, tentu (penyandang) tuli itu perlu mendapatkan informasinya dulu, bagaimana caranya mendaftar. Supaya dia tahu caranya mendaftar ke kementerian terkait, tentu harus ada akses informasi yang diberikan yang sesuai dengan kebutuhan," terang Laura.


Di sisi lain, anak-anak penyandang tuli yang masih bersekolah diarahkan untuk tetap di rumah akibat pandemi Covid-19.


"Sedangkan komunikasi dengan orang tua mereka tidak bisa dilakukan secara maksimal. Karena biasanya orang tua mereka adalah orang tua yang bisa mendengar dan belum sepenuhnya tahu cara berkomunikasi dengan anak mereka, sehingga anak (penyandang) tuli pun tidak merasakan adanya kenyamanan," ungkap Laura.

Lebih jauh, Laura menyarankan orang tua penyandang tuli untuk mempelajari bahasa isyarat secara terus menerus dan mempraktikkannya di rumah dengan anak secara rutin.


"Itu akhirnya akan membuka pintu komunikasi antara orang tua dengan anak-anak," pungkas Laura. (Al-Hanaan)


Foto: BNPB



Comments


bottom of page