top of page

Kepala BATAN Dorong Aplikasi Nuklir Untuk Efisiensi Sumber Daya Lahan & Air

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Jul 30, 2020
  • 2 min read

Updated: Jul 31, 2020



Aplikasi nuklir seperti isotop dan radiasi sudah dimanfaatkan di bidang pertanian. Salah satunya dalam penentuan dinamika unsur hara melalui teknik perunutan isotop.


Terdapat 16 unsur hara yang mendukung pertumbuhan tanaman, yaitu karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, fosfor, kalsium, dan 10 unsur lain. Kesepuluh unsur lain ini dipasok oleh mineral tanah dan bahan organik tanah serta pupuk organik dan anorganik.



Teknik perunutan isotop diperlukan untuk efisiensi sumber daya bagi produktivitas lahan dan produksi tanaman. Hal ini disampaikan Ania Citaresmini secara live di YouTube bertajuk "Teknik Perunutan Isotop dalam Penentuan Dinamika Unsur Hara" pada Jumat (24/7/2020).


Secara kuantitatif, teknik perunutan isotop mampu menghitung presentase unsur hara dalam tanaman. Secara kualitatif, teknik perunutan isotop mampu memberikan informasi dinamika unsur hara dari dalam tanah sampai ke dalam tanaman.


"Yang sering ditanyakan, berapa jumlah unsur hara yang dibutuhkan tanaman? Berapa yang diserap tanaman? Berapa jumlah unsur hara yang tersedia di dalam tanah? Dosis dan jenis pupuk apa yang mampu memenuhi kebutuhan hara tanaman?” Maka untuk menjawab ini, teknik perunutan diperlukan," ungkap Ania, peneliti Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).


Menurut Ania, efisiensi tak hanya fokus pada produktivitas tanaman tetapi juga efisiensi tingkat produktivitas laham sehingga produksi tanaman akan tetap baik dan berkelanjutan.


Efisiensi penggunaan pupuk (EPP) menunjukkan perbandingan antara jumlah unsur tertentu yang diserap oleh tanaman dengan jumlah pupuk yang berisi unsur tertentu yang diberikan pada tanaman. Penghitungan EPP dapat dilakukan dengan metode non-isotop maupun metode isotop.



Penelitian metode non-isotop menghasilkan data berapa total unsur nitrogen yang diserap oleh tanaman. Namun, metode ini tak bisa membedakan sumber nitrogen.


"Maka, disinilah peran dari teknik perunut dengan isotop tersebut. Kita bisa mengetahui berapa persen kandungan nitrogen pada tanaman yang berasal dari pupuk yang kita berikan, dan berapa persen yang dari tanah atau teknik budidaya yang kita lakukan," tandas Ania.


Di sinilah peran isotop baik stabil maupun radioaktif. Isotop stabil tidak melakukan peluruhan. Sedangkan isotop radioaktif melakukan peluruhan dan melepaskan radiasi selama proses peluruhan itu.


"Hasil penelitian ini menjadi rekomendasi dalam efektivitas pemberian pupuk atau teknologi pemupukan," lanjut Ania.


Teknik aplikasi isotop diaplikasikan layaknya menggunakan pupuk biasa dengan mengutamakan keamanan dan keselamatan.


"Lingkungan aplikasi isotop baik stabil maupun radioisotop harus terisolir untuk mencegah kontaminasi ke luar," ungkap Ania.



Aplikasi nuklir untuk manajemen sumber daya lahan dan air masih asing di kalangan masyarakat. Untuk itu, Kepala BATAN berharap aplikasi nuklir bisa diterapkan secara integratif dan berkelanjutan. Integrated farming harus memperhatikan kajian teknoekonomi agar menguntungkan masyarakat.


"Ini menjadi tantangan bagi BATAN melalui Pusat Diseminasi dan Kemitraan, bagaimana membuat model-model bisnis yang kompetitif dengan teknologi lain, yang dilihat tidak hanya bagus dari sisi ilmiahnya, namun juga kajian teknoekonominya, sehingga nuklir menjadi teknologi yang bukan hanya maju namun juga menguntungkan," tandas Anhar Riza Antariksawan, Kepala BATAN. (Al-Hanaan)


Foto oleh Tom Fisk dari Pexels



Comments


bottom of page