top of page

Kejar SDG, Menristek Sebut 3 Langkah Eksplorasi Antariksa

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Jul 16, 2020
  • 2 min read

Updated: Jul 20, 2020



Indonesia diberkahi dengan kekayaan sumber daya alam (SDA) yang luar biasa. Saat ini, sumber daya di darat dan laut sudah dieksplorasi. Ada satu sumber daya alam yang belum dieksplorasi, yaitu sumber daya alam di udara. Terdengar awam, sumber daya di udara tak hanya menyejahterakan rakyat tetap juga bisa meningkatkan daya saing bangsa.


Inilah yang dikemukakan Menteri Riset dan Teknologi, Bambang Brodjonegoro sebagai Pembicara Kunci pada Webinar Nasional Sains Atmosfer 2020 bertema "Sinergi Nasional dalam Sains dan Teknologi Atmosfer serta Aplikasinya untuk mendukung Pembangunan Berkelanjutan" yang diselenggarakan Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Rabu (15/7/2020).



Webinar diikuti oleh Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati; Sekretaris Utama LAPAN, Erna Sri Adiningsih; Direktur Pendidikan Tinggi, Iptek dan Kebudayaan Bappenas, Hadiat; Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, dan 400 peserta lain.


Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Ka.BRIN), Bambang PS Brodjonegoro mengatakan masih ada potensi SDA di udara yang belum dieksplorasi secara optimal.


"Kalau bicara pemanfaatan sumber daya alam, biasanya kita hanya terpaku apa yang ada di permukaan bumi dan mulai masuk ke permukaan laut. Tapi tentunya kita tahu di udara sampai antariksa, sebenarnya itu adalah bagian sumber daya alam kita yang seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal. Tentunya tidak hanya bagi kesejahteraan masyarakat tapi juga dapat menjadi tulang punggung daya saing perekonomian," kata Bambang.


Lebih lanjut, Bambang menyebutkan tiga pendekatan dalam mengeksplorasi luar angkasa.

Pertama, penguasaan teknologi Revolusi Industri 4.0; Kedua, peningkatan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perkembangan Revolusi Industri 4.0; Ketiga, inovasi dan eksplorasi ilmu antariksa dengan R&D (research and development) pihak swasta dan pemerintah.


"Eksplorasi angkasa luar itu adalah target yang harus kita tetapkan, meskipun kita harus tetap optimalkan apa yang ada dipermukaan bumi dan bawah laut. Selain teknologi penerbangan, teknologi terkait antariksa termasuk satelit ini akan selalu menjadi prioritas dalam pembangunan riset dan inovasi kita. Sudah saatnya kita sekarang menuju proyeksi eksplorasi angkasa luar dengan pendekatan R and D dan inovasi sebagai hasilnya," Bambang melanjutkan.



Di sisi lain, Kepala Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer, Didi Satiadi mengatakan bahwa Webinar Nasional Sains Atmosfer 2020 yang mengusung tema “Sinergi Nasional dalam Sains dan Teknologi Atmosfer serta Aplikasinya untuk mendukung Pembangunan Berkelanjutan” ini mempertemukan peneliti, insinyur, dan pengambil kebijakan untuk membahas isu nasional terkait sains dan teknologi atmosfer beserta aplikasinya di berbagi sektor.


Selain itu, webinar itu juga membangun jaringan dan memperkuat sinergitas nasional terkait sains dan inovasi teknologi atmosfer serta aplikasinya untuk mendukung pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).


"Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, melalui webinar ini diperkenalkan kepada publik mengenai keberadaan organisasi profesi bernama Asosiasi Ahli Atmosfer Indonesia (A3I) yang telah dibentuk oleh presidium dari berbagai lembaga seperti BMKG, LAPAN, ITB, dan IPB. Semoga seminar ini dapat menjadi milestone untuk A3I yang rencananya akan memulai konferensi pertamanya pada 2021," Didi menerangkan.


Pada kesempatan yang sama, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin mengatakan webinar itu mendorong kolaborasi nasional dan internasional untuk mencapai SDGs. Terlebih Indonesia menjadi tuan rumah untuk evaluasi pencapaian SDGs terkait teknologi keantariksaan di Asia Pasifik. (Al-Hanaan)




Foto: Covid19.go.id


Comments


bottom of page