Indonesia Kolaborasi dengan Turki di 3 Bidang Strategis Nasional
- MyCity News

- Aug 1, 2020
- 3 min read
Updated: Aug 4, 2020

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro melakukan kerja sama bilateral dengan Menteri Industri dan Teknologi Turki, Mustafa Varank untuk memperkuat kedua negara di bidang riset dan inovasi.
Baca Juga: Pulihkan Ekonomi Nasional, Pemerintah Kucurkan Ratusan Triliun Untuk Kredit Modal Kerja Padat Karya
Menristek Bambang mengusulkan tiga bidang kerja sama riset dan inovasi, yaitu:
(1) Rencana kolaborasi riset dan pengembangan Vaksin Covid-19 baik melalui skema mandiri berdasarkan litbangjirap dan skema uji klinis dari vaksin Covid-19
(2) Kerja sama pengembangan industri kedirgantaraan, antara lain kerjasama pesawat N-219 dan R-80
(3) Kerjasama di bidang ruang angkasa untuk pengembangan teknologi satelit dan pengembangan bandara untuk peluncuran satelit
"Ketiga topik pembahasan kerja sama ini sangat relevan dan signifikan dalam pengembangan hubungan bilateral Indonesia-Turki khususnya dalam bidang penguasaan riset, teknologi, dan inovasi," ungkap Bambang, pada Selasa (28/7/2020).
Kolaborasi Riset dan Pengembangan Vaksin Covid-19
Di bawah Kementerian Industri dan Teknologi Turki, Turki mengembangkan delapan vaksin dan 10 obat melalui TUBITAK Genetic and Biotechnology Institute.
Direktur TUBITAK, Prof. Dr. Hasan Mandal mengatakan Turki sudah menguji coba dua vaksin pada hewan. Dua vaksin ini tinggal menunggu izin Kementerian Kesehatan Turki untuk dilakukan uji klinis (clinical testing). Enam vaksin lain sedang diproses untuk dilakukan uji pada hewan (animal testing).
"Turki saat ini berada dalam urutan ke-3, setelah Tiongkok dan Amerika Serikat, sebagai kandidat negara dengan angka total kandidat vaksin tertinggi di dunia, berdasarkan data publikasi WHO per 24 Juli 2020," kata Menteri Mustafa Varank.
Di sisi lain, Indonesia bekerja sama dengan Lembaga Biologi Molekular (LBM) Eijkman dan PT Bio Farma dengan produk Sinovac dan Sinopharm untuk melakukan uji klinis pada vaksin.
"Adanya potensi yang besar untuk melakukan kolaborasi bersama antara Indonesia dan Turki dalam pengembangan vaksin Covid-19 dengan menggandeng LBM Eijkman, PT Bio Farma, dan TUBITAK kedepannya, khususnya terhadap kandidat vaksin yang potensial untuk dilakukan clinical testing," ungkap Bambang, Menteri Riset dan Teknologi.
Kolaborasi Riset dan Pengembangan Industri Kedirgantaraan
Kolaborasi di bidang kedirgantaraan antara Indonesia dan Turki sudah berlangsung lama. Duta Besar Indonesia untuk Turki, Lalu Muhammad Iqbal mengatakan Indonesia berkolaborasi dengan Turki untuk pengembangan pesawat tipe N-219, N-245, dan R-80.
Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (DI), Elfien Goentoro mengatakan PT DI sudah memiliki surat perjanjian kerjasama (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Turki di bidang manufaktur dan produksi bagian pesawat tipe N-219 dan N-245.
Saat ini, pesawat N-219 berada dalam tahap komersialisasi. Harapannya, pesawat N-219 bisa memasuki pasar Eropa melalui langkah awal sertifikasi pesawat RI-68, RI-80, dan R-90 di Turki.
Pesawat R-80 diproduksi oleh PT Regio Aviasi Indonesia (RAI) yang didirikan pada tahun 2012 oleh Prof. BJ Habibie. Ketika menjabat sebagai Menristek RI dan Presiden RI ke-3, Habibie mengunjungi Turki untuk berkolaborasi pengembangan pesawat. Saat ini, pesawat R-80 mampu membawa 90-100 penumpang.
Baca Juga: Lepas Ekspor 33 Garbarata Senilai Ratusan Miliar, Menperin Optimistis Ekonomi Indonesia Cepat Pulih
Walaupun industri kedirgantaraan Turki memprioritaskan pengembangan pesawat tempur, Presiden Turkey Aerospace Industry (TAI) memandang Indonesia berpotensi mengembangkan program pesawat penumpang dan pesawat militer bersama Turki.
Kolaborasi Riset dan Pengembangan Anatariksa
Direktur Turkish Space Agency, Serdar Huseyin Yildirim mengatakan Turki memiliki teknologi satelit yang maju di tiga kategori, yaitu satelit komunikasi (9), observasi bumi (7), dan satelit saintifik atau eksperimentasi (6).
Indonesia sendiri sedang menjalankan proyek pembangunan bandara antariksa pertama di Biak oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).
Biak adalah sebuah pulau di Papua yang paling dekat dengan garis khatulistiwa. Lokasinya di titik satu derajat LS dan berhadapan dengan Samudera Pasifik.
Menristek Bambang berharap Indonesia dapat berkolaborasi dengan Turki untuk mengembangkan level bandara angkasa ini dari nasional menjadi internasional.
Di sisi lain, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga memandang kolaborasi dengan Turki di bidang pengembangan pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) dan kereta api sangat potensial.
Di akhir acara, Menteri Industri dan Teknologi Turki mengundang Menristek/Kepala BRIN beserta Delegasi Indonesia lainnya untuk menghadiri Techno Fest pada 22 September 2020 di Ankara.
Harapannya, pesawat N-219 dapat dipamerkan di depan Presiden Turki dan komunitas riset dan inovasi dunia pada Techno Fest 2020. (Al-Hanaan)
Foto: TRT World



Comments