Indonesia Bakal Menjadi Negara Maju 2045, Yakin Bisa?
- MyCity News

- Aug 17, 2020
- 3 min read
Updated: Aug 18, 2020

Indonesia menargetkan diri menjadi negara maju pada 2045. Namun, banyak hal yang harus diselesaikan terkait perekonomian. Terlebih, pandemi Covid-19 menghantam keras sektor ekonomi dan kesehatan.
Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi, Masyita Crystallin mengatakan butuh reformasi struktural untuk mengubah fundamental ekonomi Indonesia agar sisi penawaran dan sisi permintaan meningkat. Pada gilirannya, ekonomi dapat tumbuh optimal.
"Dengan pandemi Covid-19, pertumbuhan potensial Indonesia, dan banyak negara lainnya mengalami penurunan. Sisi permintaan dan sisi penawaran perlu terus didorong untuk menjaga agar pereokonomian tidak mengalami kontraksi yang terlalu besar dan lama," terang Masyita, Minggu (16/8/2020).
Selain itu, harus ada dukungan untuk dunia usaha agar usaha dapat bangkit setelah pandemi Covid-19. Sebelum pandemi, pertumbuhan potensial Indonesia sekitar 5%.
Hal ini disebabkan beberapa hal seperti produktivitas dan nilai tambah (value added) yang belum memadai. Di samping itu, perekonomian Indonesia masih bergantung pada sektor komoditas, industri, dan jasa yang memiliki nilai tambah rendah.
Pertumbuhan ekonomi harus ditingkatkan di atas potensial untuk mewujudkan impian Indonesia menjadi negara maju pada 2045 sesuai visi pemerintah.
"Meningkatkan pertumbuhan ekonomi di atas potensial dapat dilakukan dengan meningkatkan produktivitas dan daya saing perekonomian, sehingga dengan jumlah tenaga kerja yang sama, kita dapat menghasilkan lebih," jelas Masyita.
Baca Juga: D100, Kado Pertamina Untuk HUT RI Ke-75Untuk itu, daya saing harus ditingkatkan melalui beberapa perbaikan struktural, salah satunya dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM). Masyita memandang pengeluaran untuk pendidikan termasuk lumayan, yaitu 20% dari APBN.
"Dengan penyerapan yang optimal, kebijakan ini dapat meningkatkan sumber daya manusia sehingga produktivitas tenaga kerja Indonesia dapat bersaing dibandingkan dengan negara peers," terang Masyita.
Kendala meningkatkan daya saing diantaranya biaya logistik yang tinggi. Pembangunan infrastruktur beberapa tahun belakangan bisa menjadi solusi untuk mengatasi hal itu.
Di sisi lain, struktur ekonomi perlu diubah untuk menyasar sektor bernilai tambah tinggi. Hilirisasi sektor pertambangan mulai dilakukan pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah di sektor ini.
Namun, reformasi struktural tak bisa menguah sektor ekonomi yang dominan dalam waktu singkat. Diversifikasi sektor dilakukan dengan meningkatkan nilai tambah sektor baru lainnya.
Reformasi di bidang pertanian juga harus dilakukan karena pertanian menjadi penyumbang PDB dan tenaga kerja terbesar. Selain itu, pertanian menjadi "shock absorber" saat kontraksi ekonomi atau krisis.
Masyita mencontohkan krisis ekonomi 1997. Saat itu, banyak pengangguran yang kembali ke desa dan bertani. Dapat dikatakan, sektor pertanian adalah peredam dampak krisis.
"Sektor ini adalah salah satu sektor yang masih dapat tumbuh positif di kuartal kedua, di saat sektor-sektor utama lain mengalami kontraksi," ungkap Masyita.
Selama ini defisit neraca perdagangan melebar saat pertumbuhan ekonomi berada di atas pertumbuhan ekonomi potensial akibat ketidakseimbangan sisi ekspor dan impor. Nilai tambah produk di sisi ekspor lebih rendah dibandingkan nilai tambah di sisi impor. Ini menjadi kendala pertumbuhan ekonomi Indonesia.
"Sehingga pada saat pertumbuhan ekonomi naik, pelebaran defisit neraca perdagangan menyebabkan pelemahan rupiah. Ini membuat impor bahan baku dan modal malahmenarik pertumbuhan ekonomi kembali ke bawah," tutur Masyita.
Untuk mengoreksi ketidakseimbangan ini, nilai tambah ditingkatkan dengan hilirisasi sektor-sektor utama.
Penggunaan energi baru dan terbarukan (EBT), misalnya, sejalan dengan penyeimbangan sisi ekspor dan impor. Net impor energi masih merupkan bagian yang signifikan dalam defisit perdagangan Indonesia.
Masyita menaksir potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat tinggi di masa mendatang. Populasi penduduk usia muda (demographic dividend), potensi sumber daya alam, dan kebijakan pemerintah yang pruden dapat mewujudkan peningkatan ekonomi Indonesia di atas potensialnya.
"Semua ini perlu dilakukan secara simultan untuk mencapai Indonesia maju di tahun 2045," (Al-Hanaan)



Comments