Hacker Rusia Diduga Retas Data Vaksin Covid-19
- MyCity News

- Jul 17, 2020
- 2 min read

Hacker dari badan inteligen Rusia disebut-sebut mencoba mencuri data soal pengembangan vaksin Covid-19. Berdasarkan informasi dari Otoritas Amerika Serikat, Kanada dan Inggris, kelompok hacker itu bekerja dengan kode nama APT29 yang juga dikenal sebagai 'the Dukes' dan 'Cozy Bear',
The Verge melaporkan, agensi keamanan lainnya juga mendukung temuan ini, termasuk dari Communications Security Establishment, US Department of Homeland Security, Cybersecurity dan Infrastructure Security Agency (CISA) dan National Security Agency.
National Cyber Security Center (NCS) mengutuk serangan ini. Agensi keamanan dari Inggris itu meyakini hacker mencoba untuk mengumpulkan penelitian seputar Covid-19, termasuk informasi seputar pengembangan vaksin.
"Kami mengutuk serangan tercela seperti ini terhadap mereka yang melakukan pekerjaan vital untuk memerangi pandemi virus Corona," ujar Director of Operations, Paul Chicester dalam keterangannya, Jumat (17/7/2020).
Berdasarkan laporan NCSC, APT29 menggunakan beragam tools dan teknik dalam operasi pembobolan mereka, termasuk dengan phishing dan menyusupkan malware.
"Kelompok ini sering menggunakan celah yang sudah tersedia untuk umum untuk melakukan pemindaian dan eksploitasi terhadap sistem yang rentan, kemungkinan dalam upaya untuk memperoleh kredensial otentikasi untuk mendapatkan akses lebih lanjut," tulis laporan tersebut.
Kelompok hacker ini diduga menyimpan informasi login dalam jumlah banyak. Setelah berhasil membobol organisasi yang menjadi target, APT29 kemudian meluncurkan malware khusus untuk melakukan operasi lebih lanjut di dalam sistem.
Petinggi pemerintah ketiga negara tersebut tidak menyebutkan organisasi yang menjadi korban pembobolan. Tapi menurut mantan kepala badan intelijen Inggris GCHQ, Robert Hannigan, target utama serangan ini adalah Universitas Oxford dan perusahaan farmasi AstraZeneca, yang telah berkolaborasi mengembangkan vaksin COVID-19.
Selagi pandemi virus Corona semakin menyebar luas, beberapa negara telah mengeluarkan peringatan tentang serangan siber yang menargetkan penelitian kesehatan, terutama yang berkaitan dengan vaksin Corona. (Dimas Satrio)
Foto: Istimewa



Comments