Doni Monardo Ungkap 3 Faktor Utama Banjir Bandang Luwu Utara
- MyCity News

- Jul 20, 2020
- 2 min read

Pada Jumat (17/7/2020), Ketua Gugus Tugas Nasional Doni Monardo menungkapkan tiga faktor penyebab banjir di Luwu Utara saat meninjau kondisi pascabencana baik melalui udara maupun darat secara langsung.
Banjir bandang yang menerjang pada Senin (13/7/2020) itu disebabkan oleh cuaca, alih fungsi hutan, dan karakteristik bebatuan.
Pertama, curah hujan yang tinggi antara tanggal 12 sampai 13 Juli 2020 menyebabkan Sungai Rongkong, Sungai Meli dan Sungai Masamba meluap.
LAPAN menganalisa melalui satelit Himawari-8 menunjukkan bahwa hujan dengan intensitas tinggi pada Minggu (12/7/2020) pukul 22.00 WITA hingga Senin (13/7/2020) pukul 06.00 WITA. Pada siang hari, hujan lebat kembali turun pukul 13.00 WITA.
"Analisa sementara tentunya curah hujan yang sangat besar. Tadi ibu bupati mencatat intensitas hujan antara 200 sampai 300 mm dalam waktu yang sangat singkat, antara tanggal 12 dan 13 Juli 2020," terang Doni.
Kedua, alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian dan pertambangan (mining) di wilayah hulu di atas Gunung Lero.
Doni menganalisa penyerapan air ke dalam tanah tidak maksimal karena hutan gundul. Akibatnya air mengalir bebas menerjang hilir dan pemukiman padat penduduk.
"Bagian selatan (Gunung Lero) yang mengarah ke Masamba itu terkelupas (gundul). Kalau itu sudah lama, biasanya pasti kita bisa melihat ada tutupan sebagian dengan tanaman perdu, tanaman merambat misalnya. Tetapi tadi kita perhatikan dari jarak jauh (dari atas), itu belum ada tutupan, artinya masih baru," Doni menjelaskan.
Oleh karena itu, Doni meminta tim BNPB dengan beberapa kementerian dan lembaga agar menganalisa lebih jauh agar solusi segera bisa diambil.
"Apakah ini kejadian akibat curah hujan saja, tentu tim BNPB yang sudah ditugaskan beberapa hari dengan tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dan juga beberapa lembaga yang lain kerja sama, untuk kemudian melakukan analisa sehingga dapat menjawab apa yang menjadi penyebab utama," Doni menerangkan.
Ketiga, karakteristik bebatuan di wilayah hulu dataran tinggi yang muda longsor. Selain itu, wilayah tersebut merupakan pertemuan beberapa sesar aktif. Di sisi lain, kemiringan lereng di bagian hulu DAS Balease di Gunung Lero termasuk curam dengan tingkat elevasi 60 hingga hampir 90 derajat.
"Ini menjadi catatan bagi kita semua, khususnya Pemerintah Kabupaten Luwu Utara, agar daerah-daerah yang berada di wilayah kawasan bantaran sungai terutama yang padat permukiman penduduk, sudah harus dipikirkan mitigasinya ke depan," ungkap Doni.
Bupati Luwu Utara menceritakan pada Doni kejadian serupa pada 1982. Untuk itu, Doni meminta hal itu dijadikan evaluasi dalam menjaga keseimbangan alam.
"Tahun 1982 awal pernah terjadi hal yang seperti ini, namun jumlah korbannya tidak banyak," Doni menerangkan.
Doni mengingatkan agar jangan sampai ekosistem dan keseimbangan alam terganggu.
“Kejadian ini (banjir bandang) merupakan evauasi bagi kita agar bersungguh-sungguh memperhatikan dan menata keseimbangan ekosistem,” ujar Doni.
“Jangan sampai alam terganggu karena kita mengelolanya tidak tepat,” pungkas Doni.
Dalam kesempatan itu, BNPB menyerahkan donasi Dana Siap Pakai (DSP) untuk pemulihan banjir bandang, satu buah motor trail 250 cc, 10 tenda pengungsi, dan 1.000 paket sembako.
BNPB juga meminjamkan satu unit helikopter jenis Dolphin untuk membantu distribusi logistik dan evakuasi.
Per Jumat (17/7/2020), dihimpun tim Pusat Pengendali dan Operasi BNPB, banjir bandang di wilayah Massamba mengakibatkan 35 orang tewas, 67 orang hilang, 51 orang luka-luka, dan 14.438 orang mengungsi di Kecamatan Sabbang, Kecamatan Baebunta, dan Kecamatan Masamba. (Al-Hanaan)
Foto: Danung Arifin - KOMBEN BNPB



Comments