top of page

Clorina, Tembakau Mutan Komersial Pertama di Dunia Asal Indonesia

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Jul 23, 2020
  • 2 min read

Updated: Jul 24, 2020



Pernahkah Anda mendengar kata "mutan?"


Pikiran Anda barangkali akan melayang pada serial film sains fiksi yang berjudul "X-Men." Mutan benar-benar ada namun berwujud dalam tanaman.


Sekarang Indonesia mempunyai varietas tembakau mutan asal Klaten. Mutan tembakau pertama di dunia ini bernama Clorina dan dikembangkan oleh peneliti Belanda, D. Tollenaar.


Mutan Clorina berasal dari varietas Kinari yang diiradiasi dengan sinar X pada tahun 1934. Pada tahun 1936, tanaman ini telah mengisi 10 persen areal penanaman tembakau di Indonesia.


Demikian penuturan Sobrizal peneliti Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) pada seminar daring bertema "Perbaikan Varietas Padi Lokal dengan Teknik Mutasi Radiasi," di YouTube Humas BATAN pada Jumat (17/7/2020).


"Tetapi ini tidak tidak berlangsung lama, karena pada tahun 1942 terjadi Perang Dunia II, sehingga pasar tembakau di Eropa terganggu dan gairah tanam tembakau di Indonesia juga berkurang," terang Sobrizal.


Baca Juga:


Aplikasi pemuliaan mutasi tanaman dalam skala besar dimulai pada 1964 melalui kerja sama dengan Organisasi Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) dan Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA).


Sekarang, sebanyak 3.332 varietas mutan dari berbagai tanaman dan berbagai negara yang terdaftar pada basis data IAEA.


Indonesia baru mengadakan program pemuliaan mutasi tanaman di Indoneisa paa 1970-an melalui kerja sama antara BATAN dan IAEA. Mutasi tanaman yang diteliti adalah varietas padi dengan kandungan protein tinggi.


Seiring berlalunya waktu, tujuan penelitian berubah haluan menjadi varietas yang tahan hama WBC.


"Karena pada tahun 1976, WBC menyerang hampir semua persawahan di Indonesia, terutama di Sumatera Utara," jelas Sobrizal.


BATAN mengumumkan varietas mutan padi pertama yang tahan hama WBC tahun 1982, yaitu Atomita 1. Hingga saat ini, BATAN menghasilkan 28 varietas padi, 12 varietas kedelai, tiga varietas sorgum, satu varietas gandum, dua varietas kacang hijau, dan satu varietas kapas.


"Pengembangan varietas padi lokal bertujuan untuk membantu daerah mengembangkan varietas padi lokal yang telah dikenal di daerahnya, untuk menghadirkan iptek nuklir di tengah masyarakat," kata Anhar Riza Antariksawan, Kepala BATAN.


Baru-baru ini, BATAN bekerja sama dengan Kabupaten Sijunjung menghasilkan mutan padi lokal bernama Lampai Sirandah. Lampai Sirandah merupakan perbaikan padi lokal Lampai Sijunjung. (Al-Hanaan)



Image by Couleur from Pixabay




Comments


bottom of page