BPPT Pasang CBT Sepanjang 7 km di Pulau Siberut
- MyCity News

- Jul 27, 2020
- 2 min read

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Balai Teknologi Survei Kelautan (BTSK BPPT) melakukan konferensi video dengan Kapal Riset (KR) Baruna Jaya III. Dalam konferensi itu, KR Baruna Jaya III sedang memasang Cable Base Tsunameter (CBT) sepanjang 7 km di Pulau Siberut pada Sabtu (25/7/2020).
KR Baruna Jaya III melakukan pemulihan kabel CBT lama dan menggunakan kabel CBT baru untuk mendeteksi tsunami berbasis kabel optik bawah laut. Pengembangan teknologi CBT hybrid merupakan kerja sama BPPT dengan Universitas Pittsburgh, Institut Oseanografi Woods Hole, ITB, dan Universitas Andalas.
Pemasangan CBT bawah laut merupakan upaya membangun sistem peringatan dini tsunami yang mengombinasikan kabel optik dan tanpa kabel (hybrid CBT) dalam sistem komunikasi dan pengiriman data. Nantinya, teknologi ini menjadi salah satu metode untuk membangun teknologi pendeteksi dini gempa dan tsunami secara global.
Selain pengembangan teknologi CBT hybrid untuk penguatan Ina-TEWS, BPPT juga sedang dalam transformasi digital di seluruh unit kerja. Ina-TEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) adalah suatu sistem peringatan dini tsunami yang komprehensif dan menerapkan teknologi baru yang dikenal dengan Decision Support System.
"Dalam menghadapi era transformasi digital seperti yang terus didengungkan Presiden RI Joko Widodo. KR Baruna Jaya III juga dilengkapi sistem kamera pengawas (CCTV) yang handal, sehingga proses monitoring dan pengambilan data survei, dapat dilakukan secara daring walau dari tengah lautan serta dapat memonitor upaya pemasangan kabel bawah laut dari aplikasi daring tersebut," terang Hammam.
Di sisi lain, Yudi Anantasena mengatakan pemasangan Cable Base Tsunameter (CBT) adalah perjalanan BPPT yang panjang untuk memasang satu terobosan teknologi BPPT.
Di titik 7 km, CBT akan berhubungan secara akustik nirkabel dengan sensor lain yang menuju jalur hijau ke dasar laut. Jika sukses, teknologi ini akan menghemat anggaran.
Yudi menambahkan teknologi ini menggunakan sensor bawah laut yang terhubung ke darat.
"Kesuksesan Ina-TEWS khususnya CBT diperlukan kerjasama dan kontribusi serta partisipasi seluruh elemen baik pemerintah maupun mitra untuk menjaga kesinambungan alat-alat ini," ujar Yudi, Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Teknologi Survey Kelautan BPPT, M. Ilyas berkomitmen untuk mengembangkan CBT di Pulau Siberut sebagai tanggung jawab program tsunami buoy yang ia pimpin.
"Harapannya, pembangunan teknologi sistem peringatan dini tsunami secara nasional dapat mewujudkan pelaksanaan transformasi digital sehingga menghasilkan inovasi di bidang kebencanaan melalui transformasi digital di bidang kelautan," pungkas M. Ilyas. (Al-Hanaan)
Foto: BPPT



Comments