top of page

BPPT Kembangkan 5 Inovasi di Bidang Teknologi dan Kesehatan

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Jul 16, 2020
  • 2 min read


Sejak pandemi Covid-19 resmi dinyatakan masuk Indonesia pada Maret 2020, pemerintah melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) membentuk Task Force Riset dan Inovasi Teknologi Penanganan Pandemi COVID-19, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (TFRIC-19 BPPT).


Tujuan dibentuknya gugus tugas ini untuk memasok alat kesehatan dalam negeri di masa pandemi Covid-19. Indonesia sudah ketergantungan pada bahan, alat, dan produk kesehatan impor.



"Jadi kita melibatkan kementerian, institusi penelitian pengembangan, kemudian ada industri, kemudian ada juga perguruan tinggi dan asosiasi," kata Hammam Riza, Kepala BPPT saat dialog di Media Center Gugus Tugas di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (15/7/2020).


Hammam menambahkan teknologi inovasi yang dikembangkan mulai dari proses testing, tracing, isolating hingga treating (perawatan pasien).


Ada lima inovasi TFRIC-19 BPPT yaitu:


  1. Inovasi produk diagnostik Non PCR, yaitu inovasi rapid diagnostic test untuk deteksi antibodi IgG/IgM

  2. Inovasi produk PCR test kit, reagen untuk melakukan analisis PCR

  3. Aplikasi Artificial Intelligence untuk Deteksi Covid-19, suatu inovasi teknologi untuk memperkuat penegakan COVID-19 berbasis data X-Ray dan CT Scan.

  4. Penyusunan data whole genome sequncing (WGS), profil karakteristik peta gen Covid-19 yang sangat penting untuk acuan pengembangan vaksin, diagnostik dan produk berbasis gen lainnya.

  5. Sarana prasarana dan logistik Kesehatan, diantaranya ventilator, mobile lab BSL2, portable hand washer, face shield, masker, hand sanitizer, desinfektan, dan biskuit yang mengandung imunostimulan alami untuk meningkatkan daya tahan tubuh (Biskuneo +++).


BPPT bekerja sama dengan UGM, Unair, dan PT Hepatika Mataram untuk memproduksi Rapid Diagnostic Test (RDT) Kit. RDT Kit adalah alat deteksi berbasis antibodi/rapid. Presiden Jokowi meluncurkan RDT Kit tepat pada Hari Kebangkitan Inovasi Indonesia 20 Mei 2020 silam.



RDT Kit itu telah diuji validasi pada 10.000 pasien dengan akurasi sensitivitas 98,4%. Alat itu dibanderol denga harga Rp 75.000.


"Jadi kita menguji validasi ke hampir 10.000 pasien ataupun kepada orang-orang yang memerlukan rapid testing ini dan dari 10.000 itu kita mendapatkan sensitivitasnya 98,4 persen," terang Hammam.


Hammam juga menyatakan bahwa produk inovas BPPT ditingkatkan produksinya hingga 1 juta kit per bulan. Berkolaborasi dengan Nusantic dan Bio Farma, Indonesia telah memiliki produk inovasi anak bangsa yakni PCR kit seharga Rp9,75 juta/boks atau sekitar Rp325 ribu per unit (berisi 30 unit).


Di akhir dialog, Hammam mengimbau masyarakat bersama BPPT mengembangkan ide kreativitas sistem dan teknologi agar berkontribusi membangun ekonomi berbasis inovasi.


"Kita harus berusaha bersaing membangun ekosistem inovasi agar ekonomi kita juga berbasis kepada inovasi. Itulah sesungguhnya visi Indonesia 2045. Jadi negara Indonesia maju, berbasis inovasi," Hammam memungkasi. (Al-Hanaan)



Foto: Dume Sinaga - KOMBEN BNPB

Comments


bottom of page