top of page

Bonus Demografi Bisa Jadi Petaka Loh, Ini Alasannya

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Sep 16, 2020
  • 1 min read


Kepala Lembaga Demografi Universitas Indonesia (UI), Turro Wongkaren membahas tentang bonus demografi yang dialami Indonesia.


Hal itu ia sampaikan dalam acara Sarasehan Virtual 100 Ekonom: Transformasi Ekonomi Indonesia Menuju Negara Maju dan Berdaya Saing oleh CNBC Indonesia, Selasa (15/9/2020).



"Jadi memang ini kalau ditanyakan setahun lalu mungkin jawaban beda. Karena posisi 2020-2024 kita menghadapi puncak demografi, suplai tenaga kerja paling banyak dibanding periode-periode sebelumnya. Masalahnya kita hadapi dengan jumlah tenaga kerja lulusan SD, SMK. Kita juga menghadapi pandemi Covid-19," papar Turro.


"Untuk siapkan bonus demografi nggak jadi bencana, jadi perlu dipastikan semua orang mau kerja sedapat mungkin kerja," tambah Turro.



Ia menambahkan bahwa ada fenomena pengangguran terdidik terutama sarjana S1. Ini tak melulu karena kurangnya keterampilan, tetapi juga pemilih dalam pekerjaan.


"Rata-rata bisa menganggur 6 bulan. Berapa banyak yang bisa menganggur 6 bulan? Banyak orang di Indo menganggur karena mereka mampu menganggur bukan karena mereka nggak dapat kerja, tapi nggak dapat yang mereka inginkan. Kayak dulu viral (lulusan UI) yang (mau) gaji Rp 8 juta misalnya," tutur Turro.



Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy membahas bonus demografi.


Ia menyebut ada 7 juta pengangguran dari 138 juta angkatan kerja di Indonesia per Februari 2020.



"Sekarang nggak tahu berapa penambahan pengangguran di sini. Bonus demografi kalau gagal mengelola memang yang terjadi bukan bonus tapi malapetaka demografi," tandas Muhadjir. (Al-Hanaan)


Foto: Diskartes



Comments


bottom of page