top of page

BATAN Perbanyak Iradiator untuk Sterilisasi Produk Kesehatan dan Herbal Berorientasi Ekspor

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Aug 14, 2020
  • 2 min read


Pada masa pandemi Covid-19, kita harus menjaga kebersihan agar terhindar dari penularan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Mencuci tangan atau menggunakan hand santizier bertujuan membunuh kuman. Untuk itu, sterilisasi menjadi istilah lazim di masa adaptasi kebiasaan baru.


Sterilisasi dengan metode teknik radiasi adalah teknik yang sudah matang dan mapan (established) di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Oleh sebab itu, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) mengadakan webinar bertema "Aplikasi Isotop dan Radiasi untuk Sterilisasi Produk Kesehatan dan Herbal" melalui YouTube Humas BATAN, Rabu (12/8/2020).


Dalam sambutannya, Kepala BATAN Anhar Riza Antariksawan mengatakan aplikasi iptek nuklir untuk sterilisasi produk kesehatan dan herbal di Indonesia sangat prospektif. Sayang, ketersediaan fasilitas iradiasi yang minim menjadi kendala.


"Iradiasi untuk sterilisasi produk kesehatan dan herbal sebetulnya punya prospek sangat bagus, tapi kesempatan untuk semua produk kesehatan dan produk herbal itu bisa diiradiasi agar steril, itu masih sangat sedikit. Kenapa? Karena memang fasilitas iradiasi yang ada di Indonesia juga sangat sedikit," kata Anhar.


Fasilitas iradiator baik yang bersumber dari bahan radioaktif dengan sinar gamma maupun akselerator elektron masih sangat terbatas. Indonesia hanya memiliki dua iradiator sinar gamma. Selain itu, ada empat iradiator dengan kapasitas lebih kecil di BATAN yang lebih banyak digunakan untuk penelitian.

"Untuk ukuran Indonesia yang sedemikian besar dan sedemikian banyak produk yang dihasilkan, itu masih kurang," ucap Anhar.


"Bandingkan dengan Vietnam yang punya delapan fasilitas iradiator, lima iradiator gamma, dan sisanya akselerator elektron, lebih banyak daripada Indonesia," lanjut Anhar.


Beberapa tahun lalu, BATAN mengembangkan fasilitas iradiasi. Fasilitas iradiasi terbaru adalah Iradiator Gamma Merah Putih (IGMP). IGMP dirancang oleh insinyur BATAN bersama para pemangku kepentingan lain.

IGMP diresmikan oleh Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla pada 2017 dan telah melayani meradiasi berbagai produk masyarakat, seperti produk kesehatan, herbal, dan makanan.


"Ini menunjukkan bahwa Indonesia sudah bisa membuat fasilitas iradiator yang kinerjanya bagus seperti yang diharapkan dan pemanfaatannya jelas, ini yang kita buktikan," jelas Anhar.


"Selain itu juga saat ini banyak sekali produk-produk yang kita iradiasi di IGMP adalah produk-produk yang digunakan untuk ekspor, sehingga iradiator ini bisa berkontribusi untuk meningkatkan ekspor kita," tambah Anhar.


Saat ini, BATAN sedang membuat beberapa desain iradiator yang akan ditawarkan ke investor. Harapannya, ada investor berminat untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk membangun iradiator itu.


"Kita berharap bukan BATAN yang akan membangun, namun BATAN siap menyediakan para engineernya untuk membantu menyiapkan desain serta membantu melakukan studi kelayakannya," terang Anhar.

Di akhir webinar, Anhar berharap nuklir bisa berkontribusi dalam pembangunan masyarakat dan menjadikan masyarakat adil dan makmur sesuai cita-cita founding father Indonesia.


"Tahun ini 62 tahun BATAN, kita punya visi nuklir untuk Indonesia, mudah-mudahan bisa kita realisasikan," pungkas Anhar. (Al-Hanaan)


Foto: BATAN



Comments


bottom of page