BATAN Hasilkan Vaksin dan Pakan Ternak Melalui Radiasi Nuklir
- MyCity News

- Jul 23, 2020
- 2 min read
Updated: Jul 24, 2020

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar kata "nuklir"? Nuklir sering diasosiasikan dengan bom yang bersifat destruktif. Namun, untuk hal positif, nuklir tak hanya untuk pembangkit listrik, tetapi juga bisa berperan di bidang pertanian dan peternakan.
Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengadakan seminar melalui YouTube Humas BATAN bertajuk “Aplikasi Teknik Nuklir dalam Kajian Produksi dan Kesehatan Ternak” pada Selasa (21/7/2020).
Dalam seminar tersebut, aplikasi teknik nuklir bisa menunjang program peternakan nasional berupa pakan, tata laksana reproduksi, dan program kesehatan ternak.
"Aplikasi teknik nuklir pada ruminansia (hewan pemamah biak) telah dikembangkan untuk mendukung inseminasi buatan dan pengembangan vaksin. Hanya saja gaungnya kurang. Ini menjadi tantangan bagi BATAN melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) agar hasil-hasil iptek nuklir lebih membumi," kata Anhar Riza Antariksawan, Kepala BATAN.
Peneliti Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN, Boky Jeanne Tuasikal menjelaskan permintaan produksi peternakan, seperti daging, telur, dan susu meningkat tiap tahun. Sayangnya, produksi dalam negeri hanya mampu memasok 20 persen.
"Aplikasi iptek nuklir digunakan untuk kesehatan dan reproduksi ternak sehingga diharapkan dapat meningkatkan produksi ternak dan meningkatkan pendapatan petani," terang Boky Jeanne.
Selanjutnya, ia mengatakan aplikasi iptek nuklir bisa digunakan sebagai sumer radiasi dan perunut. Sumber radiasi gamma Cobalt-60 yang digunakan untuk membuat vaksin. Radiasi sinar gamma ini bisa melemahkan mikroorganisme (live vaccine) atau menonaktifkan (kill vaccine) tanpa merusak protein antigenik. Dengan demikian, kandidat vaksin masih bisa merespons imun atau antibodi pada ternak.
"Kalau kita menggunakan teknik yang lain, misalnya dengan pemanasan atau pemberian formalin, hal ini akan merusak struktur protein antigenik yang mengelilingi mikroba atau bahan vaksin, sehingga menghasilkan antibodi yang tidak spesifik terhadap penyakit tertentu. Sedangkan jika dengan radiasi, karena memiliki daya tembus yang besar namun tidak merusak struktur protein antigeniknya, dapat menghasilkan antibodi yang spesifik," tambah Boky Jeanne.
Penelitian dan pengembangan (litbang) BATAN menghasilkan beberapa vaksin radiasi, seperti vaksin radiasi untuk penyakit fasciolosis, mastitis subklinis, dan keluron.
Fasciolosis adalah penyakit cacing hati ternak ruminansia yang disebabkan oleh parasit Fasciola gigantica yang dapat menurunkan produktivitas ternak.
"Penyakit ini biasanya kita temui pada hewan kurban jika kita tidak berhati-hati," imbuh Boky Jeanne.
Mastitis subklinis adalah penyakit radang ambing (kelenjar susu) yang umumnya disebabkan oleh bakteri Streptococcus agalactiae. Sementara, keluron adalah penyakit keguguran pada sapi yang disebabkan bakteri Brucella abortus.
Sebagai perunut, nuklir menghasilkan teknologi Radioimmuno assay (RIA) pada sapi untuk mendeteksi hormon progesteron. Teknologi RIA adalah suatu cara untuk meningkatkan efisiensi reproduksi ternak dengan mendeteksi konsentrasi hormon progesteron dalam serum atau susu.
"RIA progesteron ini bermanfaat untuk mendeteksi pubertas ternak, mendeteksi gejala birahi, mendiagnosa kebuntingan dini, mendukung program inseminasi buatan, dan diagnosa kelainan reproduksi ternak," imbuh Boky Jeanne.
Aplikasi radiasi juga bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas pakan ternak. Saat ini, BATAN sudah menghasilkan tiga varietas sorgum, yaitu Pahat, Samurai 1, dan Samurai 2.
"Saat ini BATAN juga tengah mengembangkan tiga calon varietas sorgum lainnya, yakni G5, G7, dan G8," jelas Teguh Wahyono, peneliti PAIR BATAN. (Al-Hanaan)



Comments