Banjir Luwu Utara: 3.000 KK Mengungsi, 4.202 Rumah Terdampak
- MyCity News

- Jul 17, 2020
- 2 min read

Pada Jumat (17/7/2020) pukul 17.30 WITA, Pusat Pengendali Operasi BNPB mencatat 3.000 KK lebih mengungsi pascabanjir bandang di Kabupaten Luwu Utara. Mereka mengungsi di tiga kecamatan, yaitu Sabbang, Baebunta, dan Masamba.
BPBD Kabupaten Luwu Utara mencatat penyintas sebanyak 3.627 KK atau 14.483 jiwa. Ini belum termasuk mereka yang mengungsi di Kecamatan Baebunta Selatan, Malangke, dan Malangke Barat. Sebagian mereka berada di enam pos komando taktis di Radda, Masamba, Bone, Bone Tua, dan Kantor Bupati Luwu Utara.
Saat ini, BPBD setempat dan PMI masih melakukan pendataan di lapangan dan penanganan darurat.
BPBD setempat mengidentifikasi kebutuhan mendesak untuk warga terdampak bencana yaitu air bersih, obat-obatan, pakaian dalam wanita, popok, selimut, sarung, peralatan pembersih rumah, family kits, dan masker.
Basarnas per Jumat (17/7/2020) mencatat 36 orang tewas dan 16 orang hilang. Untuk mencari dan mengevakuasi korban hilang, tim SAR Gabungan di bawah komando Basarnas menerjunkan 539 personel dengan total potensi berjumlah 1.001 personel.
Data terakhir mencatat kerugian material bangunan terdampak yaitu 4.202 rumah, 61 mikro usaha, 13 tempat ibadah, sembilan sekolah, delapan kantor pemerintah, tiga fasilitas kesehatan, dua fasilitas umum, dan satu pasar tradisional.
Kerugian infrastruktur terdampak yaitu jalan sepanjang 12,8 km, sembilan jembatan, pipa air bersih sepanjang 100 m, dan dua bending irigasi.
Akses beberapa jalan poros, seperti Masamba – Baebunta dan jalan di Kecamatan Sabbang menuju Desa Malimbu masih tertimbun lumpur dan hanya dapat dilalui kendaraan roda dua.
Mengingat pipa air bersih rusak, PDAM belum bisa beroperasi. Jaringan listrik di beberapa titik masih padam. Jaringan komunikasi belum stabil. Lahan pertanian seluas 460 hektar turut rusak.
Tim Reaksi Cepat BPBD masih melakukan kaji cepat kebutuhan di lokasi yang terisolasi. BPBD juga menerjunkan alat berat untuk membersihkan material lumpur di jalan untuk mempermudah mobilitas.
Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menganalisa penyebab banjir bandang yang melanda pada Senin (13/7/2020).
Berdasarkan citra satelit Himawari-8, hujan dengan intensitas yang cukup lama pada 12 Juli 2020 dari sekitar jam 22.00 WITA sampai jam 6.00 WITA tanggal 13 Juli 2020.
Pada Senin (13/7/2020) pukul 13.00 WITA, hujan turun lagi dengan intensitas yang lama sampai malam hari hingga terjadi bencana banjir bandang. Curah hujan membawa lumpur dan ranting pohon dari hulu sungai.
Struktur geomorfologi dan geologi Kabupaten Luwu Utara di wilayah hulu Sungai Sabbang, Sungai Radda, dan Sungai Masamba merupakan perbukitan yang sangat terjal dan kasar. Kondisi tersebut terbentuk dari patahan-patahan akibat proses tektonik.
Banyak patahan di wilayah ini menyebabkan struktur tanahnya tidak cukup kuat untuk mempertahankan posisinya. Kondisi ini mudah longsor dan apabila terakumulasi dapat terjadi banjir bandang. (Al-Hanaan)
Foto: Ardiyan Rizki Ananda - BNPB



Comments