top of page

Alkes Impor Bisa Miliaran, Kemenristek: Pemerintah Siap Fasilitasi Penemuan Obat Covid-19

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Aug 7, 2020
  • 2 min read


Baru-baru ini terdengar berita beberapa pihak yang mengklaim bisa membuat obat Covid-19. Hal ini diluruskan oleh Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi COVID-19 Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN Prof. Ali Gufron Mukti, M.Sc., Ph.D bahwa proses penemuan obat membutuhkan proses yang panjang dan harus melewati beragam prosedur.


"Menemukan sebuah obat diperlukan proses yang sangat panjang karena menyangkut keamanan hidup masyarakat. Obat yang salah akan bisa menjadi racun dan berbahaya," terang Ali dalam dialog di Media Center Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Jakarta, Kamis (6/8/2020).



Lebih jauh, Ali mengungkapkan proses pertama dalam melakukan penelitian adalah presentasi kepada kolega agar hasil penelitian bisa didiskusikan bersama mengenai kelayakannya. Berbagai tahapan harus dilakukan untuk memastikan keamanan obat untuk dikonsumsi.


"Oleh karena itu, biasanya orang melakukan penelitian sebelumnya membuat proposal terlebih dahulu. Selanjutnya proposal tersebut harus lulus dalam uji etika kelayakan yang diuji oleh Komite Etik. Jadi tidak bisa langsung mengklaim menemukan obat. Harus ada prosedur yang dijalankan," papar Ali.


Ali juga menginformasikan bahwa pemerintah terbuka dan mengapresiasi siapapun yang berpartisipasi dalam penciptaan obat Covid-19 di Indonesia.


Pemerintah akan mendukung dan memfasilitasi segala penelitian dalam penemuan obat selama sejalan dengan koridor dan etika yang ada.


Saat ini, peneliti dan dosen di Indonesia telah menghasilkan lebih dari 60 inovasi.



"Berbagai inovasi selama 4 bulan terakhir telah dihasilkan. Seperti robot perawat, rapid test kit dan lain sebagainya. Bahkan PCR yang biasanya kita impor, sekarang tidak. Peneliti Indonesia telah membuatnya. Ada juga mobile laboratory dimana laboratorium bisa menghampiri masyarakat. Itu juga inovasi yang dibuat oleh anak bangsa. Terakhir adalah ventilator canggih yang dibuat oleh UGM, yang kalau kita impor itu bisa miliaran tapi ini hanya 450 juta," pungkas Ali. (Al-Hanaan)


Foto: BNPB



Comments


bottom of page