Alasan Indonesia Belum Bangun Kilang Selama 30 Tahun
- MyCity News

- Aug 17, 2020
- 2 min read

Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Basuki Tjahaja Purnama (BTP) mengungkapkan kekecewaan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) atas pembangunan kilang minyak di Indonesia. Hal itu disampaikan BTP dalam acara "Bertemu Indonesia" yang digelar Narasi TV, Minggu (16/8/2020).
"Presiden sudah teriak-teriak bangun kilang, perbarui kilang. Presiden bilang lima tahun lewat gitu aja tuh, gak ada yang dibangun. Gak ada yang di-upgrade juga. Untung presiden terpilih kedua kalinya. Bisa ngegas lagi," kata Ahok, sapaan akrab BTP.
"Nah itu itu kenyataannya begitu sebetulnya. Fakta kita begitu. Antara ngeyel kalau dibilang nggak ngerti nggak juga kok. Pintar-pintar kok," lanjut Ahok.
Pemandu acara, Najwa Shihab bertanya mengenai sosok yang membuat pembangunan kilang terhambat, Ahok mengaku tidak memahami.
"Pejabat-pejabat kita kan di Pertamina, di migas kan gak bodoh semua, doktor, profesor semua. Kita nggak ngerti. Yang jelas barangnya nggak jadi kan? 5 tahun Pak Jokowi kan nggak ada yang jadi," tandas Ahok.
Pembangunan kilang pernah dibahas dalam rapat dengan pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR RI di ruang rapat Komisi VII DPR RI, Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (1/7/2020) lalu.
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, mengatakan sejumlah kemajuan sudah dicapai Pertamina dalam program itu, misalnya RDMP di Balikpapan, Kalimantan Timur.
"Progres kilang dipantau tiap minggu. Kita pantau betul, ada real time dashboard kita pasang cctv di lapangan," ucap Nicke.
Dalam kesempatan itu, CEO Refinery & Petrochemical Subholding Pertamina, yaitu PT Kilang Pertamina Internasional, Ignatius Tallulembang mengungkapkan Indonesia belum membangun kilang selama 30 tahun.
"Kami ingin mengulang kembali karakteristik bisnis oil and gas. 30 tahun kita belum bangun kilang dalam konteks menaikkan kapasitas kilang," ungkap Ignatius.
Lebih lanjut, Ignatius menyatakan prioritas pertama adalah meng-upgrade kilang yang sudah ada dan menambah kilang baru di Tuban.
"Keseluruhan proyek ini 48 miliar dolar AS dan akan berlangsung 6-7 tahun ke depan," ujar Ignatius.
Bagi Ignatius, pembangunan kilang membutuhkan strategi pendanaan dan multifunding dari mitra strategis bisa menjadi pilihan. (Al-Hanaan)
Foto: Pexels



Comments