top of page

75 Tahun Merdeka, Kesejahteraan Rakyat Masih Utopia

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Aug 19, 2020
  • 2 min read

Baru saja kita merayakan hari kemerdekaan Indonesia ke-75. Salah satu tujuan bernegara adalah menyejahterakan rakyat.


Sudahkah tujuan ini tercapai?


Muhamad Chatib Basri, ekonom dan dosen ekonomi Universitas Indonesia menulis opini di media cetak mengenai kondisi Indonesia dibandingkan negara lain di usianya yang ke-75.


"Di mana Indonesia berdiri dalam usia yang ke-75 tahun saat ini dibandingkan negara lain," tulis Chatib, Selasa (18/8/2020).


"Kita harus membandingkan dengan negara yang punya karateristik mirip dengan kita. Misalnya, jumlah penduduk, struktur ekonomi, struktur geografis, dan sebagainya," tegas Chatib.

Selanjutnya, Chatib menghitung dengan data Penn World Table 9.1. Data itu menunjukkan pendapatan per kapita dihitung dengan pendapatan per kapita relatif dalam prioritas daya beli terhadap Amerika Serikat (AS).


Indonesia dan India berpenduduk besar, memiliki masalah institusi yang sama, dan pembangunan infrastruktur yang tertinggal. Namun, menurut penghitungan data Penn World, Indonesia lebih baik dibandingkan India.


"Kita juga lebih baik dibandingkan Filipina yang memiliki kesamaan geografis sebagai negara kepulauan. Namun jika dibandingkan dengan China dan Brasil yang juga memiliki populasi banyak, Indonesia tertinggal," kata Chatib, Komisaris Utama PT Bank Mandiri Tbk (Persero).


"Begitu juga dibandingkan dengan Malaysia yang juga banyak memiliki ketergantungan terhadap sumber daya alam," imbuh pria yang juga mantan Menteri Keuangan itu.


Chatib menerangkan, Indonesia sebenarnya tergolong kelompok kelas berpendapatan menengah pada 1998. Sayang, krisis keuangan Asia membuat Indonesia terpuruk.

Butuh waktu 10 tahun untuk kembali ke posisi semula. Periode 2008-2013, pendapatan per kapita Indonesia meningkat drastis karena boom komoditas dan arus modal masuk.


Untuk memperkuat argumennya, Chatib mengutip pernyataan Woo dan Hoong bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia memang cukup berhasil. Namun, Indonesia tak cemerlang amat untuk urusan kesejahteraan masyarakat.


"Hal ini tercermin dari berbagai indikator termasuk tingkat kematian bayi, pendidikan, dan tingkat harapan hidup dibandingkan negara-negara itu. Selain itu, kita miskin dalam produk ekspor," kata Chatib.


Dapat dikatakan, ekspor domestik masih relatif primitif. Hal ini diperparah dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat sejak 1998. Sumber pertumbuhan bergeser dari investasi dan ekspor ke konsumsi rumah tangga.

"Jika kita ingin agar ekonomi Indonesia berkelanjutan, sumber pertumbuhan ekonomi harus kembali kepada investasi dan ekspor. Ini membutuhkan investasi, infrastruktur, dan sumber daya manusia yang baik," tandas Chatib.


"Ini adalah resep yang dipilih China, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, dan negara-negara yang berhasil naik kelas," terang Chatib. (Al-Hanaan)


Foto: Chatib Basri Twitter


Comments


bottom of page