top of page

UEA Jalin Kerja Sama dengan Israel, Gus Mis: Arab Saudi Akan Menyusul

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Aug 27, 2020
  • 2 min read


Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel secara resmi mengumumkan hubungan diplomatik bilateral. Mereka akan bekerja sama di bidang investasi, pariwisata, kesehatan, keamanan, dan sektor lain.


Pihak Amerika Serikat (AS) optimistis hubungan bilateral ini akan membawa perdamaian di Timur Tengah. Negara Arab lain juga diharapkan mengikuti langkah UEA untuk bekerja sama dengan Israel.



"Ini adalah negara Arab pertama yang menormalisasi hubungan dengan Israel sejak lama, 26 tahun sejak Yordania. Kami berharap melihat ada lebih banyak negara yang melakukan hal sama," kata Jared Kushner, penasihat senior AS, dikutip dari CNBC, Kamis (27/8/2020).


Pengamat Timur Tengah juga tak heran dengan normalisasi hubungan UEA dengan Israel. Alasannya, kedua negara itu memang sudah lama bekerja sama secara sembunyi-sembunyi.


"Sudah lama sebenarnya. Ini hanya mengkonfirmasi bahwa Israel sama Uni Emirat Arab telah resmi membuka hubungan diplomatik yang selama ini di bawah tangan secara tersembunyi," kata Zuhairi Misrawi, cendekiawan Nahdlatul Ulama (NU), dikutip dari Liputan6, Kamis (27/8/2020).



Misrawi memandang normalisasi antara UEA dan Israel sebagai lelucon. Ia menambahkan normalisasi ini adalah manuver presiden AS untuk mencari simpati pemilih Muslim di pemilihan umum AS akhir 2020.


Meski demikian, ia memprediksi Arab Saudi juga akan berdamai dengan Israel. Ketika ditanya negara mana berdamai dengan Israel, ia menjawab Arab Saudi dan UEA.


"Habis ini akan menyusul Arab Saudi akan berdamai dengan Israel," kata Gus Mis, sapaan akrab Misrawi melalui Twitter.


"Arab Saudi, beberapa negara Teluk, yang paling pasti dua negara ini karena mereka menjadi proksinya Amerika di Timur Tengah," lanjut Gus Mis.



Di sisi lain, pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi juga tak kaget dengan normalisasi itu. Baginya, normalisasi sudah terlihat ketika Donald Trump menawarkan kesepakatan damai, yaitu Deal of the Century.


Dalam Deal of the Century, Trump menawarkan berbagai keuntungan investasi dalam perdamaian Israel-Palestina. Yon menilai alasan ekonomi melatarbelakangi negara Arab ikut tertarik pada investasi AS dan Israel.


"Kita ketahui negara Timur Tengah sedang mengalami kebutuhan akan ekspansi investasi. Dan investasi itu dijanjikan dari Israel, maka kemudian atas nama kerja sama ekonomi itu, normalisasi dijalankan," kata Yon.



Lebih jauh, Yon memprediksi Arab Saudi dan negara Teluk lain akan mengikuti jejak UEA.


"Tidak menutup kemungkinan Saudi akan melakukan hal yang sama karena kepentingan dan kebutuhan ekonomi," jelas Yon.


Kendatipun normalisasi memberikan keuntungan ekonomi, Yon merasa Palestina tak akan mendapat keuntungan itu. Justru Palestina akan ditinggalkan, sementara negara tetangganya yang akan mendapat keuntungan dari investasi AS dan Israel.


Ia mengkhawatirkan Palestina akan menyetujui tawaran investasi dengan iming-iming ekonomi. Realitanya, proposal damai itu berat sebelah.


"Di dalam (Palestina) sendiri juga memprihatinkan juga secara ekonomi, ketidakmampuan membayar roda pemerintahan, dan lain sebagainya. Itu saya kira menjadi tekanan yang bisa dilakukan," pungkas Yon. (Al-Hanaan)


Foto: Bandar Al Jaloud - AFP



Comments


bottom of page