Kemenkes: Tangani Covid-19 Tanpa Melupakan TBC
- MyCity News

- Jul 8, 2020
- 3 min read

Tuberculosis (TBC) atau TB adalah penyakit paru-paru yang disebabkan bakteri Mycobacterius tuberculosis. Penyebaran penyakit TBC sangat tinggi. Oleh karena itu, masyarakat harus waspada dengan penyakit TBC terutama di masa pandemi Covid-19.
Keduanya adalah penyakit saluran pernapasan yang menyerang paru-paru.
TBC dan Covid-19 adalah penyakit yang menyerang paru-paru.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes mengatakan Indonesia adalah negara dengan kasus TBC terbesar ketiga di dunia, setelah India dan Cina.
"Kita (Indonesia) ranking tiga di dunia. Ada India, China, kemudian Indonesia," ungkap Wiendra dalam dialog di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, Selasa (7/7/2020).
Menurut data Kemenkes, kasus TBC mencapai 845.000 orang dan yang telah ditemukan sebanyak 540.000 orang (69%). Kematian orang akibat TBC mencapai 13 orang per jam.
Pencegahan penularan TBC dan Covid-19 sama-sama dengan menerapkan protokol kesehatan.
Meski sama-sama penyakit saluruan pernapasan yang menular melalui droplet, ada perbedaan antara TBC dan Covid-19.
"Penularannya (TBC dan COVID-19) sama-sama droplet. Namun perbedaannya adalah pada diagnosisnya. Kalau COVID-19 dari virus, sedangkan TBC dari kuman atau bakteri," terang Wiendra.
Lebih jauh, Wiendra menjelaskan gejala TBC diantaranya serangan kronik lebih dari 14 hari, demam < 38 derajat Celcius, batuk berdahak, bercak darah, sesak napas memberat bertahap, berat badan turun, dan berkeringat di malam hari.
Gejala Covid-19 diantaranya gejala onset akut < 14 hari, demam > 38 derajat Celcius, batuk kering, sesak napas setelan onset, nyeri sendi, nyeri kepala, pilek, dan gangguan penciuman serta pernapasan.
Persamaannya, diagnosa TBC dan Covid-19 menggunakan metode Tes Cepat Molekuler (TCM) dan Polymerase Chain Reaction (PCR).
Perbedaannya, diagnosis TBC menggunakan dahak dan Covid-19 menggunakan tes swab.
"Covid-19 belum punya obat, sedangkan TBC sudah ada obatnya, dengan catatan harus dikonsumsi dengan baik dan patuh," jelas Wiendra.
Meski ada obatnya, banyak penderita TBC resisten dengan bakteri Mycobacterius tuberculosis. Obat TBC sudah tak mempan karena penderita TBC tak disiplin dalam pengobatan. TBC disepelekan karena penyakit lama.
"Ketika sudah mengkonsumsi, lalu stop, lalu nanti minum lagi. Jadi sembuhnya tidak betul-betul sembuh sempurna. Padahal obat TB harus dikonsumsi dalam waktu yang cukup panjang yaitu enam bulan. Namun pada bulan pertama dan kedua merasa sudah sembuh, padahal belum sembuh. Hal ini yang menjadi resisten dan masalah yang masih menjadi tantangan kita," terang Wiendra.
Hal ini diamini oleh Ir. Arifin Panigoro, Ketua Dewan Pembina Stop TB Partnership Indonesia. TBC jangan disepelekan meski familiar karena penderitanya sangat banyak dan penularan mudah.
"Sebelum ada COVID-19, penyakit TBC ini sudah serius di Indonesia. Masalah TBC ini besar tetapi atensi dari siapapun, dari pemerintah dan masyarakat dianggap ini penyakit lama yang sudah selesai," ungkap Arifi.
Meski penderita TBC rawan terinfeksi Covid-19, penyakit TBC bukanlah penyakit bawaan Covid-19.
"Menurut data, hanya 19 orang penderita TBC yang terkena COVID-19. Pada data yang tersedia, justru penyakit tidak menular atau PTM menjadi penyakit bawaan yang mudah terjangkit COVID-19. Walaupun TBC ada dalam 10 besar penyakit bawaan yang rawan terkena COVID-19, namun TBC bukan nomor satu," imbuh Wiendra.
Pengendalian penyakit TBC di masa pandemi tentu lebih berat dibanding masa sebelumnya.
"Pasiennya (pasien TBC) tidak bisa ke layanan kesehatan karena takut, kemudian fasilitas kesehatan juga sekarang takut memeriksa pasien TBC, terlebih pada COVID-19. Namun dengan sebagian besar rumah sakit rujukan COVID-19 yang memiliki pemeriksaan laboratorium dengan TCM, cukup membantu terhadap pelayanan pasien TBC," kata Wiendra.
Arifin mengimbau masyarakat untuk bekerja sama untuk mengendalikan TBC dan Covid-19.
"Kita harus siap untuk bekerja ekstra keras untuk menangani penanganan pandemi COVID-19 tanpa melupakan potensi bahaya TBC yang juga masih terjadi di Indonesia," Arifin menegaskan.
"Bagi pasien TBC juga jangan putus obat. Para pasien TBC dapat mengakses obat dengan melalui Go-Drug atau mitra lainnya yang menyediakan obat TBC," Wiendra memungkasi. (Al-Hanaan)
Foto: M Arfari Dwiatmodjo - BNPB



Comments