top of page

Bangga, Indonesia Ciptakan Ventilator dan Vaksin Buatan Negeri

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Jul 8, 2020
  • 3 min read


Indonesia kini memproduksi lima jenis ventilator di tengah tingginya kebutuhan pada masa pandemi Covid-19. Artinya, inovasi teknologi di bidang kesehatan sudah bisa diperhitungkan.


Menteri Riset dan Teknologi Indonesia Bambang PS Brodjonegoro mengatakan lima ventilator buatan Indonesia sudah diproduksi massal dan didistribusikan ke rumah sakit. Namun, ventilator itu belum dijual bebas karena diprioritaskan untuk rumah sakit.


"Kelima ventilator tersebut sudah masuk tahap produksi dan sudah mendapat izin edar, kecuali dari LIPI yang masih dalam tahap uji coba produksi. Dari produksi yang sudah dilakukan memang kebanyakan masih difokuskan untuk mengisi kekosongan yang ada di rumah sakit maupun fasilitas kesehatan, dengan kata lain belum menuju komersial, dan lebih fokus bagaimana mengisi kebutuhan seperti yang disampaikan oleh gugus tugas," terang Menteri Bambang dalam wawancara dengan Metro Siang melalui Skype, Gedung BJ Habibie pada Minggu (5/7/2020).


Bambang juga menyatakan kekagumannya pada para peneliti yang mampu memproduksi ventilator dalam waktu singkat.


"Bisa dibayangkan dalam waktu hanya dua sampai tiga bulan, mereka bisa membuat inovasi sesuai target untuk didonasikan, karena dua dari lima yang tadi disebutkan yaitu dari ITB dan UI sudah mendapatkan dukungan dari crowd funding dari berbagai lapisan masyarakat yang bisa membiayai, tidak hanya pembuatan prototype-prototype sampai kepada uji tapi juga sampai produksi dan kemudian langsung didonasikan. Seperti contoh ITB sudah menyalurkan 300 lebih unit ke berbagai rumah sakit di hampir banyak provinsi di Indonesia. UI berencana menargetkan 300 unit dengan harapan nanti akan menjadi donasi, belum pada konteks menjual atau secara komersial," ungkap Bambang.


Menristek/Kepala BRIN sedang menjajaki kerja sama dengan Gugus Tugas Covid-19 atau Kemenkes untuk pengadaan alat kesehatan produksi dalam negeri secara terpusat agar distribusi tepat sasaran.


"Bagaimana agar Gugus Tugas dan Kemenkes melakukan pengadaan secara terpusat sehingga ketika mereka misalkan membeli ventilator dari hasil inovasi anak negeri ini maka kemudian distribusinya tepat sasaran kepada rumah sakit atau fasilitas kesehatan yang memang membutuhkan ventilator," ungkap Menteri Bambang.


Rencananya, ventilator akan dikembangkan dari sumber yang tersedia secara publik. Jadi tidak ada klaim dalam bentuk paten.


Menurut Menteri Bambang, dalam kondisi pandemi paten dikesampingkan terlebih dahulu, kita fokus pada pemenuhan kebutuhan masyarakat. Tentunya insentif yang diberikan adalah kepada kemitraan mereka dengan industri.


Menteri Bambang menambahkan pemerintah akan membantu hilirasasi dan komersialisasi alat kesehatan yang merupakan hasil inovasi. Hasil inovasi ini akan mendapat insentif berupa kepemilikan hak paten.


Di kemudian hari, hak paten bisa dibeli lisensinya oleh pihak industri atau swasta. Harapannya, para inovator akan bersemangat menciptakan alat kesehatan yang canggih.


Menteri Bambang akan mengeluarkan Keppres seminggu atau dua minggu lagi. Ia sebagai Ketua Tim Pengembangan Vaksin bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Badan Usaha Milik Negara.


"Kita sedang berupaya mengembangkan vaksin dengan tiga prinsip yaitu cepat, efektif, dan mandiri. Kita mencari vaksin yang paling cepat yang bisa dikembangkan dan Bio Farma sebagai BUMN sudah bekerja sama misalnya dengan perusahaan pharmaceutical dari Cina yang tahapan vaksinnya sudah masuk uji klinis tahap dua dan tahap tiga," ujar Bambang.


Vaksin harus diproduksi sesuai dengan strain virus yang beredar di Indonesia. Vaksin yang dikembangkan Eijkman sudah menggunakan isolat virus yang ada di Indonesia. Vaksin dikembangkan dengan metode protein recombinant yang nantinya akan bekerja sama dengan Biofarma untuk tahapan pengujian klinisnya.


"Mandiri maksudnya baik dalam pengembangan bibit vaksinnya dan paling penting juga dalam produksinya," imbuh Bambang.


"Ketika mulai terjadi pandemi, kami merupakan salah satu dari kementerian yang anggarannya di potong (di-refocusing untuk penanganan Covid 19)," lanjut Bambang, Menteri Riset dan Teknologi/BRIN.


Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 mendapat tiga sumber dana penelitian. Pertama, dana abadi penelitian yang didukung oleh LPDP. Kedua, realokasi anggaran terutama dari BPPT dan LIPI.


"Ketiga, realokasi anggaran BOPTN (Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri) yang kami dedikasikan untuk penanganan Covid-19 dalam berbagai aspek dari screening, diagnosis, alat kesehatan, obat, terapi, sampai ke vaksin," Bambang memungkasi. (Al-Hanaan)


Foto: Ristek BRIN

Comments


bottom of page