top of page

Tantangan Wabah Flu Burung vs. Covid-19

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Jul 10, 2020
  • 2 min read


Pandemi bukan pertama kalinya dihadapi oleh masyarakat dunia. Sebelumnya sudah ada pandemi lain seperti flu Spanyol dan flu burung.


Di Indonesia, kita sempat mengalami wabah flu burung pada 2005 silam. Ada 200 kasus di Indonesia dan 1.000 kasus di dunia.


Ketua Komite Nasional Pengendalian Flu Burung Pandemi Influenza (Komnas FBPI) 2005-2009 Dr. Bayu Krisnamurthi mengatakan dampak wabah flu burung lebih ringan dibandingkan wabah Covid-19.


"Kalau dibandingkan dengan Covid-19 terus terang saja saya harus mengatakan flu burung itu enggak ada apa-apanya," kata Bayu saat dialog Media Center Gugus Tugas Nasional di Graha BNPB, Jumat (10/7/2020).


Bayu menjabarkan hal mengerikan dari flu burung adalah angka kematian (fatality rate) yang sangat tinggi. Angka kematian di dunia mencapai 60 persen sedangkan di Indonesia mencapai 80 persen.


Setelah flu burung terdeteksi di Indonesia, Indonesia membentuk Komnas FBPI. Komnas FBPI segera melancarkan strategi di tiga bidang untuk menekan flu burung.


"Kita menangani penyakitnya, dampak sosial-ekonominya, dan komunikasi publiknya itu dalam porsi yang sama besar," ungkap Bayu.


Dalam penanganan flu burung, FBPI melibatkan ilmuwan. Unggas yang berpotensi terinfeksi dibakar demi keamanan. Padahal unggas memiliki dampak ekonomi yang tinggi bagi masyarakat. Di bidang komunikasi publik, pemerintah terus menerus melakukan sosialisasi dengan kreatif.


"Komunikasi yang membuat mereka bukan hanya takut, tapi juga kita siaga," imbuh Bayu.

Oleh karena itu, strategi komunikasi harus disusun dengan baik agar informasi bisa mudah diterima masyarakat.


"Strategi komunikasi ini kita susun dengan baik, strategis, komprehensif, multilevel, multimedia. Masyarakat sekarang membutuhkan informasi, kalau tidak diisi mereka akan cari, jadi penuhi dengan informasi yang benar," terang Bayu.


Dalam kesempatan yang sama, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan 2004-2009 I Nyoman Kandun mengimbau masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan. Kerja sama lintas ektor sangat diperlukan agar Covid-19 dapat ditekan dengan efektif.


"Kerja sama antar lintas sektor, lintas program bahkan lintas negara sangat penting sekali, karena penyakit menular tidak mengenal wilayah secara administratif," kata Nyoman.


Dalam acara itu, Duta Tanggap Flu Burung 2006-2009, Muhammad Farhan menjelaskan tantangan dalam komunikasi publik. Ia membandingkan komunikasi publik pada masa wabah flu burung dengan wabah Covid-19. Perbedaan utama adalah perubahan persepsi masyarakat dan pilihan media yang digunakan.


Dulu, media lebih sederhana sehingga informasi lebih mudah dipahami masyarakat. Sekarang, media sosial dan internet turut mempengaruhi keputusan seseorang.


"Tantangan jauh lebih besar, selain magnitudo dari Covid jauh lebih besar dari Flu Burung, terjadi perubahan presepsi publik terhadap informasi yang dilihat serta pilihan media yang digunakan," terang Farhan yang sekarang menjadi anggota DPR RI.


Pelajaran utama untuk penanganan flu burung di Indonesia adalah tingkat kepercayaan masyarakat terhadap fakta dari penyebaran virus.


"Percayalah bahwa virus ini adalah sebuah fakta bukan konspirasi elite global. Kita boleh berteori tapi virus punya kehendak sendiri dan Tuhan yang menetukan, mari kita mengantisipasi sebagai makhluk Tuhan menggunakan akal yang telah diberikan sebagai anugerah terbaik dari Allah SWT," Farhan memungkasi. (Al-Hanaan)



Foto: Dume Harjuti Sinaga - BNPB

Comments


bottom of page