Kondisi ODHA di Masa Pandemi Covid-19
- MyCity News

- Jul 10, 2020
- 2 min read

Pandemi Covid-19 harus diwaspadai oleh siapa saja. Siapa pun harus menjaga kesehatan dan menerapkan protokol kesehatan. Tak terkecuali Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Seperti penyandang PTM, ODHA juga berisiko tinggi terhadap Covid-19.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kementerian Kesehatan RI dr. Wiendra Waworuntu, M.Kes mengatakan pengobatan terhadap HIV/AIDS paling terdampak Covid-19.
"Dampak terhadap jumlah pengobatan terhadap HIV/AIDS, tidak semuanya menurun. Ada yang stabil, tapi ada juga yang menurun," kata Wiendra saat dialog di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, Kamis (9/7/2020).
Pandemi Covid-19 juga berdampak pada ketersediaan obat di bulan April. Lockdown dan pembatasan sosial menyurutkan aktivitas ekonomi. Ini berdampak pada produksi dan distribusi obat.
"Sempat terganggu pada bulan April transisi Mei karena pada waktu itu lockdown juga di India, tetapi hanya terganggu sekitar satu minggu dan sampai hari ini obat sudah tersedia di semua layanan," jelas Wiendra.
Kemenkes menyediakan obat ARV gratis bagi ODHA. Wiendra menyarankan ODHA untuk mengonsumsi obat ARV secara rutin dan tetap waspada dengan Covid-19.
Obat antiretroviral (ARV) adalah obat yang mampu menghambat perkembangan virus HIV dengan menghilangkan unsur yang diperlukan virus untuk menggandakan diri. Selain itu, obat ARV juga mencegah virus HIV menghancurkan sel CD4 atau sel darah putih yang menjaga kekebalan tubuh.
"Jangan berpikir bahwa saya meminum obat ARV nanti saya tidak akan terkena COVID-19, karena buktinya COVID-19 bisa menyerang siapa saja. Kita tetap harus tetap waspada," tegas Wiendra.
“Beberapa bulan lalu kita sempat ada kekosongan ARV dan sekarang mungkin udah normal ya. Tapi di beberapa kabupaten seperti Kabupaten Sukabumi itu masih kosong”, terang Timotius Hadi, anggota Jaringan Indonesia Positif.
Pelayanan kesehatan di Jakarta masih aman, namun tidak untuk di daerah. Penderita ODHA yang berada di daerah harus berulang kali datang ke puskesmas untuk mengambil obat.
"Kalau di Jakarta enaknya bisa di multi month, resepnya dibikin dua bulan. Jadi satu kali datang bisa mendapatkan dua bulan. Tapi untuk teman-teman di daerah itu kesulitan," Hadi melanjutkan.
Di akhir dialog, Jaringan Indonesia Positif melalui Hadi berharap ODHA diperlakukan setara dengan masyarakat lain.
"Kami berharap seluruh elemen masyarakat menganggap bahwa ini adalah sebuah isu masalah kesehatan bersama. Jadi jangan lagi melihat orang itu terinfeksi, tapi bagaimana dia adalah tetap manusia yang memiliki hak yang setara dengan yang lainnya," Hadi memungkasi. (Al-Hanaan)
Foto: Dume Sinaga - BNPB

Comments